Selasa, 08 Juli 2014

POLA PEWARISAN BULU PADA DOMBA


BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Penampilan ternak merupakan bentuk fisik yang dapat dilihat dari penampilan luar dengan ukuran bagian-bagian tubuh yang berbeda antara spesies ataupun bangsa. Penampilan ternak sangat dipengaruhi oleh variasi genetik  dan lingkungan tempat ternak hidup.Salah satu penampilan ternak yang nampak dari luar ialah pola warna bulu ternak.
 Pola warna bulu pada ternak menjadi sifat kualitatif yang ekspresinya dikontrol oleh suatu gen yang dapat digunakan sebagai ciri khas bangsa domba. Warna bulu pada domba diekspresikan dalam pola warna pada bagian tubuh dan kepala. Factor yang mempengaruhi pola warna  pada bagian tubuh dan kepala  dipengaruhi oleh gen yang menempati banyak lokus-lokus tertentu. Salah satu faktor penentu utama warna bulu pada domba adalah lokus Agouti (anonymus.2014.http://rohmatfapertanian.wordpress.com/2012/07/25/diktat-genetika-ternak-5/). Lokus ini mempunyai banyak alel yang berbeda, hal ini menjadikannya salah satu lokus yang sangat kompleks yang mengatur warna bulu pada domba.
Warna bulu dan kulit berperan penting dalam kehidupan seekor ternak domba karena berhubungan dengan daya tahan dalam menghadapi cekaman radiasi.  
Rumusan masalah
1.      Pengertian genetika
2.      Persilangan monohybrid dominan penuh
3.      Pola pewarisan pada bulu domba 















BAB II
PEMBAHASAN
a.       Pengertian genetika
Genetika merupakan ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat organisme maupun sub organisme yang diturunkan dari indukan kepana anaknya (hereditas). Ilmu ini pertamakali diperkenalkan oleh oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick  dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906 (Wikipedia.2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Genetika diakses pada 22 maret 2014). Yang dipelajari dalam ilmu genetika berupa :
1.      Bidang material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetika)
2.      Bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
3.      Bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik)(Anonym.2014.http://materi-pelajaran-biologi.blogspot.com/2012/11/persilangan-monohibrid-dalam-hokum.html#sthash.wRmDFTMS.dpuf)
Berikut adalah pembagiaan persilangan :
1.      Persilangan Monohibrida (Persilangan dengan satu sifat beda)
2.   Persilangan Dihibrida (Persilangan dua sifat beda)
3.   Persilangan Trihibrida (persilangan tiga sifat beda)
4.  Penyakit Menurun pada Manusia (penyakit yang dibawa oleh gen, kemungkinan tidak dapat disembuhukan dan diturunkan pada anaknya, bersifat homozigot resesif atau letal) (Anonym.2014.http://rachmad-septiadi.blogspot.com/2012/04/proses-persilangan-monohibrid-dominan_09.html)

b.      Persilangan monohybrid dominan penuh
Pada persilangan monohybrid penuh terjadi ketika :
1.      sifat resesif terkalahkan atau tertutupi oleh sifat dominan
2.      ada dua gen resesif dengan gen dominan secara bersamaan, maka sifat resesif tdk muncul
contoh persilangan monohybrid dominan penuh yaitu pada warna bulu domba :







P1
Fenotip
:
Domba bulu putih
X
Domba bulu hitam
Genotip
:
BB
bb
Gamet
:
B

b
F1
:
Bb
(100 %)
Domba bulu putih
P2
Fenotip
:
Domba bulu putih
X
Domba bulu putih
Genotip
:
Bb
Bb
Gamet
:
B dan b
B dan b
Kemungkinan F2
Gamet jantan/betina
B
B
B
BB
Domba bulu putih
Bb
Domba bulu putih
b
Bb
Domba bulu putih
bb
domba bulu hitam

Rasio genotip F2  adalah :
BB : Bb : bb = 1 : 2 : 1 = 25 % : 50 % : 25 %
Rasio fenotip F2 adalah :
Domba bulu putih : domba bulu hitam = 3 : 1 = 75 % : 25 %

Peristiwa timbulnya warna bulu putih pada domba terjadi karena warna bulu putih lebih dominan terhadap warna hitam pada bulu domba. Oleh karena itu gen B yang membawa sifat warna bulu putih pada domba nampak lebih jelas dari pada gen b yang menimbulkan warna hitam. Sehingga ketika ada gen B bersamaan dengan gen b maka yang akan ditampakkan adalah warna bulu putih, karena gen B lebih dominan terhadap gen b.
Fenotip F1 pada bulu domba, dengan adanya sifat dominan warna bulu putih akan menghasilkan 100% keturunan warna bulu putih. Sedangkan fenotip F2 yang dihasilkan adalah 3 : 1 untuk 75% warna bulu domba putih  dan 25 % warna bulu domba hitam. Untuk genotip pada F2 adalah 1 : 2 : 1. Hal ini sesuai dengan pendapat (inounu, ismeth  dkk. 2009) yang menyatakan bahwa warna bulu domba diekspresikan oleh gen yang menempati lokus-lokus tertentu dan disebut lokus agouti. Lukos ini pengaturan warna bulu menjadi lebih kompleks. Selanjutnya warna putih (B) mempunyai sifat dominan dengan penetrasi yang lengkap (complete penetrance) terhadap warna lain (pigmented color) yaitu arna hitam. Hal ini menyebabkan kebanyakan bangsa domba mempunyai fenotip berwarna putih.
BAB III
KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan penting yang dapat diambil ialah:
  1. Semua individu F1 adalah seragam
  2. Jika dominasi tampak penuh, maka individu F1 memiliki fenotip seperti induknya yang dominan
  3. Jika dominanasi tampak penuh maka F1 disilangkan dengan F1  menghasilkan keturunan F2 yang memperlihatkan perbandingan genotip 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3 : 1





















DAFTAR PUSTAKA



Inounu, Ismeth. D. Ambarawati dan R.H.Mulyono.2009. Pola Warna Bulu Pada Domba Garut Dan Persilangannya. Jitv Vol. 14 No. 2: 118-130
Wikipedia.2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Genetika diakses pada 22 maret 2014