BAB
I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Penampilan ternak merupakan bentuk fisik yang dapat
dilihat dari penampilan luar dengan ukuran bagian-bagian tubuh yang berbeda
antara spesies ataupun bangsa. Penampilan ternak sangat dipengaruhi oleh
variasi genetik dan lingkungan tempat
ternak hidup.Salah satu penampilan ternak yang nampak dari luar ialah pola warna
bulu ternak.
Pola warna
bulu pada ternak menjadi sifat kualitatif yang ekspresinya dikontrol oleh suatu
gen yang dapat digunakan sebagai ciri khas bangsa domba. Warna bulu pada domba
diekspresikan dalam pola warna pada bagian tubuh dan kepala. Factor yang
mempengaruhi pola warna pada bagian
tubuh dan kepala dipengaruhi oleh gen
yang menempati banyak lokus-lokus tertentu. Salah satu faktor penentu utama warna
bulu pada domba adalah lokus Agouti (anonymus.2014.http://rohmatfapertanian.wordpress.com/2012/07/25/diktat-genetika-ternak-5/). Lokus ini mempunyai banyak alel yang
berbeda, hal ini menjadikannya salah satu lokus yang sangat kompleks yang
mengatur warna bulu pada domba.
Warna bulu dan kulit berperan penting dalam
kehidupan seekor ternak domba karena berhubungan dengan daya tahan dalam
menghadapi cekaman radiasi.
Rumusan
masalah
1. Pengertian
genetika
2. Persilangan
monohybrid dominan penuh
3. Pola
pewarisan pada bulu domba
BAB II
PEMBAHASAN
a. Pengertian
genetika
Genetika
merupakan ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat organisme maupun sub
organisme yang diturunkan dari indukan kepana anaknya (hereditas). Ilmu ini
pertamakali diperkenalkan oleh oleh William Bateson
pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick
dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika
ke-3 pada tahun 1906 (Wikipedia.2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Genetika
diakses pada 22 maret 2014). Yang dipelajari dalam ilmu genetika berupa :
1. Bidang
material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetika)
2. Bagaimana
informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
3. Bagaimana
informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan
genetik)(Anonym.2014.http://materi-pelajaran-biologi.blogspot.com/2012/11/persilangan-monohibrid-dalam-hokum.html#sthash.wRmDFTMS.dpuf)
Berikut
adalah pembagiaan persilangan :
1. Persilangan
Monohibrida (Persilangan dengan satu sifat beda)
2. Persilangan Dihibrida (Persilangan dua sifat beda)
3.
Persilangan Trihibrida (persilangan
tiga sifat beda)
4.
Penyakit Menurun pada Manusia (penyakit
yang dibawa oleh gen, kemungkinan tidak dapat disembuhukan dan diturunkan pada
anaknya, bersifat homozigot resesif atau letal) (Anonym.2014.http://rachmad-septiadi.blogspot.com/2012/04/proses-persilangan-monohibrid-dominan_09.html)
b.
Persilangan monohybrid dominan penuh
Pada
persilangan monohybrid penuh terjadi ketika
:
1. sifat
resesif terkalahkan atau tertutupi oleh sifat dominan
2. ada
dua gen resesif dengan gen dominan secara bersamaan, maka sifat resesif tdk
muncul
contoh persilangan monohybrid dominan penuh yaitu pada
warna bulu domba :
|
P1
|
||||||||||||||
|
Fenotip
|
:
|
Domba bulu putih
|
X
|
Domba bulu hitam
|
||||||||||
|
Genotip
|
:
|
BB
|
bb
|
|||||||||||
|
Gamet
|
:
|
B
|
b
|
|||||||||||
|
F1
|
:
|
Bb
|
||||||||||||
|
(100 %)
Domba bulu putih
|
||||||||||||||
|
P2
|
||||||||||||||
|
Fenotip
|
:
|
Domba bulu putih
|
X
|
Domba bulu putih
|
||||||||||
|
Genotip
|
:
|
Bb
|
Bb
|
|||||||||||
|
Gamet
|
:
|
B dan b
|
B dan b
|
|||||||||||
|
Kemungkinan F2
|
||||||||||||||
Rasio genotip F2 adalah :
BB : Bb : bb = 1 : 2 : 1 = 25 % : 50 % : 25
%
Rasio fenotip F2 adalah :
Domba bulu putih : domba bulu hitam = 3 : 1 = 75 % : 25 %
|
||||||||||||||
Peristiwa timbulnya warna bulu putih pada domba
terjadi karena warna bulu putih lebih dominan terhadap warna hitam pada bulu
domba. Oleh karena itu gen B yang membawa sifat warna bulu putih pada domba nampak
lebih jelas dari pada gen b yang menimbulkan warna hitam. Sehingga ketika ada
gen B bersamaan dengan gen b maka yang akan ditampakkan adalah warna bulu
putih, karena gen B lebih dominan terhadap gen b.
Fenotip F1 pada bulu domba, dengan adanya sifat
dominan warna bulu putih akan menghasilkan 100% keturunan warna bulu putih.
Sedangkan fenotip F2 yang dihasilkan adalah 3 : 1 untuk 75% warna bulu domba
putih dan 25 % warna bulu domba hitam.
Untuk genotip pada F2 adalah 1 : 2 : 1. Hal ini
sesuai dengan pendapat (inounu, ismeth
dkk. 2009) yang menyatakan bahwa warna bulu domba diekspresikan oleh gen
yang menempati lokus-lokus tertentu dan disebut lokus agouti. Lukos ini pengaturan
warna bulu menjadi lebih kompleks. Selanjutnya warna putih (B) mempunyai sifat
dominan dengan penetrasi yang lengkap (complete penetrance) terhadap warna lain
(pigmented color) yaitu arna hitam. Hal ini menyebabkan kebanyakan bangsa domba
mempunyai fenotip berwarna putih.
BAB III
KESIMPULAN
Beberapa
kesimpulan penting yang dapat diambil ialah:
- Semua individu F1 adalah
seragam
- Jika dominasi tampak penuh,
maka individu F1 memiliki fenotip seperti induknya yang dominan
- Jika dominanasi tampak penuh
maka F1 disilangkan dengan F1 menghasilkan keturunan F2 yang
memperlihatkan perbandingan genotip 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3 : 1
DAFTAR
PUSTAKA
Anonym.2014.http://materi-pelajaran-biologi.blogspot.com/2012/11/persilangan-monohibrid-dalam-hokum.html#sthash.wRmDFTMS.dpuf diakses
pada 22 maret 2014
Anonym.2014.http://rachmad-septiadi.blogspot.com/2012/04/proses-persilangan-monohibrid-dominan_09.html
diakses pada 20 Maret 2014
Anonym.2014.http://rohmatfapertanian.wordpress.com/2012/07/25/diktat-genetika-ternak-5/
diakses pada 20 maret 2014
Inounu, Ismeth. D. Ambarawati dan
R.H.Mulyono.2009. Pola Warna Bulu Pada Domba Garut Dan
Persilangannya. Jitv Vol. 14 No. 2: 118-130
Tidak ada komentar:
Posting Komentar