RESUMAN
Inseminasi
buatan dilakukan untuk memperbaiki mutu genetik, menghindari penyebaran
penyakit dan meningkatkan jumlah keturunan ungul sehingga harapannya mampu meningkatkan
kesejahteraan peternak. Proses perkawinan IB dilakukan dengan menggunakan
pejantan yang memiliki sifat unggul serta kualitas semen yang baik. Sifat
unggul ini terlihat dari ukuran testis yang besar dan simetris. Sedangkan untuk
menghasilkan semen yang berkualitas, ada beberapa faktor yang harus
diperhatikan seperti umur pejantan, sifat genetik, suhu dan musim, frekuensi
ejakulasi dan pakan ternak. Menurut Suharyati,
Sri dan Madi Hartono(2013) pakan
yang mendukung kualitas semen sapi, ransum harus memiliki kandungan vitamin E
dan mineral Zn, dimana Vitamin E mampu mencegah kerusakan spermatozoa pada ternak
jantan. Untuk Mineral Zn berpengaruh terhadap proses, kontrol motilitas sperma,
stabilisasi membran sperma, mendukung pertumbuhan dan pembelahan sel-sel gonad,
membantu dalam proses pematangan spermatozo didalam epididimis.
kualitas
spermatozoa akan semakin rendah seiring menuanya umur ternak. Menurut Melita, Dini, Dasrul, dan Mulyadi Adam(2013)
kualitas pada pejantan yang berumur 2-7 tahun dapat menghasilkan semen yang
lebih baik untuk angka kebuntingan yang lebih tinggi. Selain itu, kualitas
semen pejantan yang sering diejakulat memiliki persentase spermatozoa abnormal yang
lebih tinggi, hal ini dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat stres,
genetika, gangguan pada tubuli seminiferi, dan kondisi lingkungan yang tidak
sesuai. Ariefin Ade Prasetyo, Taswin R.
Tagama, dan Dadang M. Saleh(2013) menambahkan bahwa pada pengujian
kualitas semen, tingkat umur akan
mempengaruhi kualitas semen darisegi sifat serta tingkat motilitasnya. Selain
itu, semen yang sering diejakulasikan akan menurunkan tingkat libido,
volume semen dan jumlah spermatozoa per ejakulasi.
Pelaksanaan
inseminasi buatan, dapat dilakukan dengan menggunakan semen cair ataupun beku.
semen beku digunakan untuk pelaksanan IB didaerah yang letaknya jauh. untuk
mempertahankan kualitas dalam jangka waktu yang lama, menurut Amin, Muhammad
Rizal, Mozes R. Toelihere, Tuty, Yusuf, dan Polmer Situmorang(1998) IB dapat
dilakukan pengenceran plasma semen sapi dengan laktosa. Pengenceran ini akan
mencegah terjadinya peroksidasi lipid sehingga menghambat kerusakan pada
membran plasma semen. pada kualitas. Pada kualitas pakan yang baik akan
menghasilkan konsentrasi spermatozoa
tinggi, dimana semen tersebut dapat melakukan metabolisme secara lancear karena
ada kualitas pakan yang mendukung serta tingkat seksual dan kedewasaan dari
pejantan. Ini sesuai penjelasan D.C ,Candra Aerens, M. nur ihsan, Nurul
Isnaini(2012)bahwa kualitas pakan yang diberikan, kesehatan alat reproduksi,
besar testis, umur dan frekuensi ejakulasi pejantan akan mempengaruhi
presentase konsentrasi spermatozoa.dan untuk sapi local, yang memiliki karakteristik mudah beradaptasi,memiliki
kualitas motilitas semen yang tinggi, dibandingkan dengan sapi persilangan.
Tingginya mortalitas akan berbanding lurus terhadap tingginya presentase
konsentrasi semen.
Pelaksanaan
IB dapat dilakukan dengan metode vagina buatan dan elektroejakulator. Pada
kedua teknik ini, semen dioptimalkan dalam suhu serta kelembapan yang sama
dengan aslinya serta tidak terkena langsung oleh sinar matahari. Dikatakan Herdis(2012)bahwa semen yang terkena sinar matahari langsung, akan
mengalami penurunan kualitas. Sehingga saat penampungan semen diperlukan
inseminator handal serta kain hitam sebagai penutup tempat penampungan semen.
Dengan teknik ini akan membantu mengoptimalkan kualitas semen. untuk
penyimpanan Semen
cair, dapat disimpan pada suhu 5°C dan mampu bertahan selama 3-4 hari. Dimana
suhu ini akan mengubah struktur plasma semen sehingga semen lebih retan
terhadap radikal bebas saat berkontak langsung pada oksigen.(Indriani,Trinil Susilawati, Sri
Wahyuningsih.2013.) dengan kualitas semen yang baik inilah, pejantan unggul
dapat dijadikan pertimbangan untuk mendapatkan litter size tinggi.
Daftar Pustaka
Amin .Muhammad Rizal, Mozes R. Toelihere, Tuty
L. Yusuf, Dan Polmer Situmorang3.1998.Pengaruh
Plasma Semen Sapi Terhadap Kualitas Semen Beku Kerbau Lumpur (Bubalus
Bubalis). Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner Vol. 4 No. 3
D.C.Candra Aerens, M. Nur Ihsan,
Nurul Isnaini.2012.Perbedaan
Kuantitatif Dan Kualitatif Semen Segar Pada Berbagai Bangsa Sapi Potong. Hasil
penelitian di BBIB Singosari
Herdis.2012.Pengaruh
Waktu Penampungan Semen terhadap Gerakan Massa Spermatozoa Dan Tingkah Laku
Kopulasi Pejantan Domba Garut. Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia Vol. 14,
No. 1, Hlm.38-43
Indriani,
Trinil Susilawati, Sri Wahyuningsih.2013. Daya Hidup Spermatozoa Sapi Limousin
yang Dipreservasi dengan Metode Water Jacket dan
Free Water Jacke. Jurnal Veteriner September 2013 Vol. 14 No. 3: 379-386
Melita.Dini,
Dasrul, Dan Mulyadi Adam.2013.Pengaruh Umur Pejantan Dan Frekuensi Ejakulasi
Terhadap Kualitas Spermatozoa Sapi Aceh. Jurnal Medika Veterinaria. Vol. 8 No.
1, Februari 2014
Prasetyo.Ariefin
Ade,Taswin R. Tagama, Dan Dadang M. Saleh.2013. Kualitas Semen Segar Sapi Simmental Yang Dikoleksi Dengan Interval Yang
Berbeda Di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Jurnal Ilmiah Peternakan
1(3):907-913
Suharyati.Sri dan Madi Hartono.2o13.Peningkatan
Kualitas Semen Kambing Boer Dengan Pemberian Vitamin E Dan Mineral Zn. Jurnal
Kedokteran Hewan Vol. 7 No. 2, September 2013
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar