Selasa, 19 Mei 2015

makalah tentang penetasan ayam kampung Gallus domestikus



Dalam rangka mengembangkan populasi bangsanya serta menghasilkan individu baru dari bangsanya, maka ternak unggas memerlukan penetasan telur fertile yang baik, yang ditetaskan melalui teknik penetasan yang baik pula. Berikut adalah penjelasan pada tahap penetasan.
1.      Persiapan Penetasan
Persiapan penetasan diawali dengan mempersiapkan mesin tetas pada suhu 36-37°C, 37-38°C, 38-39°C, membersihkan telur, menimbang bobot telur, memasukkan telur kemesin tetas untuk  perlakuan, mengontrol suhu mesin tetas, melakukan candling pada hari ke-7 dan 21, dan pada akhir penetasan dilakukan penyemprotan agar kelembapan tetap terjaga. Untuk mempertahankan kondisi tersebut maka telur diletakkan  pada refrigerator dengan kondisi diatas suhu -2°C (28°F ) untuk mencegah kerusakan telur karena pada suhu penyimpanan tersebut pelepasan CO2 dan air dari dalam telur dapat dihambat (Suradi,Kusmajadi.2006 ). Menurut Mahi, Muhammad, Dkk (2012) Sebelum telur dimasukkan ke mesin penetas, telur akan  difumigasi dengan larutan kalium permanganat - formalin. Selanjutnya, Telur dibersihkan kemudian ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan bentuk telur dan bobotnya. Telur selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin penetas.
2.      Proses Penetasan
Pada tahap penetasan telur ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menunjang telur tetas yang fertil, diantaranya pelaksanaan menejemen pemeliharaan unggas seperti : penyediaan bibit, dan penerapan sistem penetasan yang baik dan efisien, faktor keturunan, kualitas pakan, sistem pemeliharaan, iklim dan umur telur. Menurut Nurhadi, Dkk.(2006) Menjelaskan bahwa pada sistem menejemen penetasan telur, yang harus diperhatikan diantaranya:
1.      Suhu (Temperatur)
2.      Kelembaban Udara (Humidity)
3.      Ventilasi (Ventilation)
4.      Frekuensi Pemutaran Telur (Egg Turning)
5.       Kebersihan (Cleanliness).
6.      Bobot telur yang akan mempengaruhi hasil bobot tetas DOC
Daya Tetas dipengaruhi oleh penyiapan telur, faktor genetik, suhu dan kelembaban, umur induk, kebersihan telur, ukuran telur, nutrisi dan fertilitas telur (Sutiyono dan Krismiati, 2006). Menurut Prasetyo dan Susanti (2000) Hasil tetas telur dipengaruhi oleh faktor peralatan mesin tetas dalam menciptakan kondisi lingkungan (kelembaban dan temperatur) yang harus disesuaikan dengan persyaratan menetasan telur, dan faktor lingkungan diluar kemampuan pengelola misalnya terjadi perubahan tegangan listrik maupun pemadaman listrik.
Teknik penyimpanan pada penetasan yang lama, dapat  mengkibatkan terjadinya penimbahan besar kantung udara yang akan  mempengaruhi kualitas telur, sehingga posisi peletakan dan lama penyimpanan merupakan dua faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mempertahankan kualitas telur. Untuk menghindari adanya penimbahan kantung udara, maka dalam proses penyimpanan telur diperlukan tahap pemutaran yang teratur. Pada tahap pemutaran telur, sebaiknya dilaksanakan paling sedikit 2 kali atau lebih baik diputar 6,8, sampai 10 kali sehari dengan setengah putaran. Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan lebih cepat menetas (daya tetas) sehingga kandungan air di dalamnya tidak akan banyak hilang yang dapat membuat bobot badan DOC meningkat, dan sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan membuat telur tidak cepat menetas (daya tetas) dengan baik, sehingga terjadi penguapan yang berlebihan dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang dapat membuat bobot badan DOC akan berkurang (Bachar.Irawati.2006). Menurut Mahi, Muhammad, Dkk (2012) untuk Pemutaran telur dilakukan mulai hari 3 sampai dengan hari ke 14. Pemutaran dilakukan tiga kali sehari, pada pukul 06.00, 13.30 dan 21.00 dan temperature yang digunakan harus dapat memberi kelembapan dan memberi suhu yang pas pada telur tetas sampai terlihat keretakan pada telur, kemudian kelembaban dinaikkan. Untuk teknik pemutaran telur, dijelaskan Suradi ,Kusmajadi(2006) bahwa, pada pemutaran telur posisi Kantung udara berada pada bagian tumpul dari telur. Posisi peletakan telur dengan bagian tumpul di bawah akan menyebabkan ruang udara tertekan dari isi telur.
Pada proses penetasan, antara  Temperatur dan kelembaban dalam mesin tetas harus stabil untuk mempertahankan kondisi telur pada keadaan yang normal. Telur akan optimal menetas jika berada pada temperatur antara 94-104°F (36-40°C) dan dalam kelembapan 70 %. Hodgetts (2000), menyatakan suhu yang optimum untuk penetasan adalah 37,8°C, dengan kisaran 37,2-38,2°C. Embrio tidak toleran terhadap perubahan temperatur dan kelembapan yang drastis. Dimana ketika Temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian embrio ataupun abnormalitas embrio, sedangkan kelembaban mempengaruhi pertumbuhan normal dari embrio (Wulandari, 2002). Menurut Rarasati (2002) suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi atau kekeringan, sehingga DOC yang dihasilkan akan lemah, akibatnya DOC akan mengalami kekerdilan dan mortalitas yang tinggi. Ketika temperatur terlalu rendah, akan menyebabkan perkembangan organ-organ embrio tidak berkembang secara proporsional (Susila, 1997). Wiharto (1988) menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Rakhman (2005) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan.
Bachar.Irawati (2006) menyatakan bahwa penyimpanan telur tetas sebaiknya, tidak lebih dari 4 hari dan suhu yang paling sesuai untuk menyimpan telur tetas adalah 10 – 13°C.  Ningtyas, Maulidya Siella. Dkk (2013) menyatakan bahwa peningkatan suhu penetasan pada saat hari ke-16 akan mengurangi telur fertil yang menetas dan embrio muda sangat sensitif terhadap perubahan suhu penetasan. Suhu di ruang inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2°C dari kisaran suhu standar. Suhu standar untuk penetasan berkisar antara 36°C-39°C. Jika terjadi penurunan suhu terlalu lama biasanya telur akan menetas lebih lambat dari 21 hari dan kalau terjadi kenaikan suhu melebihi dari suhu normal maka embrio akan mengalami dehidrasi dan akan mati (Hamdy, 2001).




Hari
°C
°F
%
1-3
39
101
50-60
4-7
39,5
102
50-60
8-12
40
103
50-60
13-17
40,5
104
50-60
18-21
40,5-41
104-105
75
Tabel temperatur dan kelembapan unggas dari hari ke hari
Selain kelembapan, sistem sirkulasi udara juga menentukan fertilis dari telur tetas. Pada mesin penetas, Ventilasi harus stabil, agar sirkulasi udara di dalam mesin tetas berjalan dengan baik. Dalam perkembangan normal, embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori-pori kerabang telur. Untuk itu, dalam pembuatan alat penetas telur/mesin tetas harus diperhatikan cukup tidaknya oksigen yang ada dalam bok/ruangan, karena jika tidak ada oksigen yang cukup dalam bok/ruangan dikhawatirkan embrio gagal berkembang. (Farry B. Paimin, 2004). menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) Mesin tetas dihidupkan selama 2 x 24 jam dengan suhu antara 370C–390C diukur dengan menggunakan termometer, dalam keadaan ventilasi tertutup dan bak air terisi.
Dalam tahap penyimpanan telur, sebaiknya ruang penyimpanan telur tetas juga perlu dibersihkan dari benda-benda yang berbau tajam, sehingga bau yang dibawa oleh benda tersebut tidak terbawa telur saat disimpan dimesin penetasan. Selain itu, pembersihan juga perlu dilaksanakan pada telur yang akan diawetkan untuk menghilangkan kotoran dari permukaan kulit telur. Pembersihan ini dilakukan dengan mencuci telur dengan tidak mengubah struktur pori-pori, tidak mengubah sifat mengembang pada telur dan kontraksi isi telur. Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) teknik pembersihan kulit kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam alkohol untuk membersihkan kotoran dan membunuh mikroorganisme yang melekat pada kulit telur Mesin tetas dan peralatannya dibersihkan dengan hand sprayer, setelah kering difumigasi dengan menggunakan gas. Massa telur juga akan member pengaruh terhadap daya tetas telur. Dimana telur pada ayam kampung memiliki berat telur jenis sekitar 35-40 gr. Telur tetas yang baik ialah yang memiliki massa yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.
Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006), bentuk telur yang lancip dapat menerima panas suhu ruang inkubasi dengan baik, sehingga proses metabolisme embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga berbobot tetas lebih rendah bila dibandingkan dengan telur dengan bentuk bulat. Dan bobot tetas telur yang lancip lebih tinggi dari telur bulat atau tumpul. Selain itu ukuran besar telur juga berpengaruh pada ukuran besar anak ayam yang baru menetas, dan pengaruhnya tidak terlihat pada anak yang berumur 35 hari. Bobot telur akan mempengaruhi bobot tetas. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah kandungan putih telur dan kuning telurnya. Semakin besar bobot telur, maka kandungan putih telur dan kuning telur juga semakin besar, dimana putih telur dan kuning telur tersebut merupakan sumber makanan bagi embrio dalam telur. faktor-faktor yang mempengaruhi bobot telur antara lain adalah : breed, umur, nutrisi pakan, molting, suhu dan lingkungan, program pencahayaan, serta umur dewasa kelamin.
3.      Proses Akhir Penetasan
Pada proses akhir penetasan, dilakukan penyemprotan agar kelembaban tetap terjaga. Penyeprotan dilakukan pada Hari ke 19 dan tidak lagi dilakukan pembalikan telur. Teknik penyemprotan dilakukan dengan sedikit membasuh atau menyemprotkan air pada permukaan cangkang telur agar cangkang menjadi lunak. Langkah ini dilakukan sampai telur mulai menetas. Pada  Hari ke 20 sampai hari ke 22, ketika telur sudah menetas, maka anak tetas segera dipindahkan ke wadah lain. Pada tahap akhir penetasan, juga akan dilakukan peneropongan seperti yang dikatakan Bachar.Irawati (2006) bahwa Peneropongan dilakukan pada hari ke-4 dan hari ke-18 dengan menggunakan candler. Bila peneropongan pada hari ke-4 menunjukkan gejala infertile, telur tersebut dapat diafkir dan dikonsumsi. Sebaliknya kalau pada hari ke-18 tidak ada gejala kehidupan embrio, telur segera dibuang. 10. Pada hari ke-21 dihitung daya tetas dan ditimbang bobot badan DOC dari telur tetas ayam kampung.
Ningtyas, Maulidya Siella. Dkk.(2013) menyebutkan bahwa Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil tetas pada suhu 36°C dikarenakan kematian embrio yang tinggi dan pada minggu terakhir penetasan banyak telur yang mengeluarkan busa karena busuk. Kejadian ini paling banyak disebabkan oleh kelembaban mesin tetas pada akhir masa inkubasi yang terlalu rendah, sehingga akan mempercepat penguapan air dari telur dan embrio akan kekeringan.padahal  Kelembaban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. Jika kelembaban tidak optimal, embrio tidak mampu memecahkan kerabang yang terlalu keras. Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati antara hari ke-22 sampai ke-27 selama inkubasi. Hal ini biasa disebut dead-in-shell dan terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama, embrio tumbuh dan berkembang secara normal, tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang. Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. Kategori kedua mati pada hari yang sama, tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang kepala. Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embrio memecah kerabang yang gagal. Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari ke-28. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang. Untuk mempertahankan kelembaban yang stabil, persediaan air didalam bak penampung harus selalu tersedia dan cukup

Daftar Pustaka:
Bachar,.Irawati; Iskandar Sembiring, dan Dedi Suranta Tarigan.2006. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur terhadap Daya Tetas dan Bobot Badan DOC Ayam Kampung (The Effect of Egg Centrifugation Frequency on Hatchability and Body Weight DOC of Free range Chicken. Jurnal Agribisnis Perternakan, Vol. 2, No. 3.
Hamdy, A. M. M., A. M. Henken, W. V. D. Hel, A. G. Galal and A. K. I. Abd. Elmoty. 2001. Effect on Incubation Humidy and Hatching Time on Heat Tolerance of Neonatal Chick : Growth Performance After Heat Expo Sure. Poul
Muhammad Mahi, Achmanu, And Muharlien.2012. Pengaruh Bentuk Telur Dan Bobot Telur Terhadap Jenis Kelamin, Bobot Tetas Dan Lama Tetas Burung Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica). Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya:Malang
Ningtyas, Maulidya Siella. Ismoyowati, Ibnu Hari Sulistyawan 2013. Pengaruh Temperatur Terhadap Daya Tetas Dan Hasil Tetas Telur Itik (Anas Plathyrinchos) (The Effect Of Temperature On Hatchability And Egg Hatching Yield Duck (Anas Platyrinchos)). Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):347-352,
Nurhadi, Imam dan Eru Puspita.2006. Rancang Bangun Mesin Penetas Telur Otomatis Berbasis Mikrokontroler Atmega8 Menggunakan Sensor Sht 11. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya:Surabaya
Paimin, F.B. 2004. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prasetyo, L.H. dan T. Susanti. 2000. Persilangan timbale balik antara itik Alabio dan Mojosari Periode awal bertelur. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, Vol. 5, No. 4 : 210-213.
Rakman, B. 2005. Pengaruh Bobot Tetas Terhadap Mortalitas, Bobot Akhir, Laju Pertumbuhan Itik Tegal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Rarasati. 2002. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Pada Penetasan Telur Itik Terhadap Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Laporan Hasil Penelitian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. try Science 70 : 1507-1515.
Hodgetts. 2000. Incubation The Psichal Requiments. Abor Acress service Bulletin No 15, August 1.
Suradi ,Kusmajadi.2006.Perubahan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Posisi
Peletakan Berbeda Selama Penyimpanan Suhu Refrigerasi (The Changing of Hen's Egg Quality with Diffferent Laying Position During Refrigerator Temperature Storage)
Susila, A. B. 1997. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur dan Berat Telur Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Mortalitas, dan Berat DOD Itik Tegal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sutiyono, S. Riyadi, dan S. Kismiati. 2006. Fertilitas dan Daya Tetas Telur dari Ayam Petelur Hasil Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Ayam Kampung yang Diencerkan Dengan Bahan Berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Wulandari, A. 2002. Pengaruh Indeks dan Bobot Telur Itik Tegal Terhadap Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Universitas Brawijaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar