Dalam
rangka mengembangkan populasi bangsanya serta menghasilkan individu baru dari bangsanya,
maka ternak unggas memerlukan penetasan telur fertile yang baik, yang
ditetaskan melalui teknik penetasan yang baik pula. Berikut adalah penjelasan
pada tahap penetasan.
1. Persiapan Penetasan
Persiapan penetasan diawali
dengan mempersiapkan mesin tetas pada suhu 36-37°C, 37-38°C, 38-39°C,
membersihkan telur, menimbang bobot telur, memasukkan telur kemesin tetas
untuk perlakuan, mengontrol suhu mesin
tetas, melakukan candling pada hari ke-7 dan 21, dan pada akhir penetasan
dilakukan penyemprotan agar kelembapan tetap terjaga. Untuk mempertahankan
kondisi tersebut maka telur diletakkan
pada refrigerator dengan kondisi diatas suhu -2°C (28°F ) untuk mencegah
kerusakan telur karena pada suhu penyimpanan tersebut pelepasan CO2 dan air
dari dalam telur dapat dihambat (Suradi,Kusmajadi.2006 ). Menurut Mahi,
Muhammad, Dkk (2012) Sebelum
telur dimasukkan ke mesin penetas, telur akan
difumigasi dengan larutan kalium permanganat - formalin. Selanjutnya,
Telur dibersihkan kemudian ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan bentuk telur
dan bobotnya. Telur selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin penetas.
2. Proses Penetasan
Pada tahap penetasan telur ada beberapa hal yang
harus diperhatikan untuk menunjang telur tetas yang fertil, diantaranya
pelaksanaan menejemen pemeliharaan unggas seperti : penyediaan bibit, dan penerapan
sistem penetasan yang baik dan efisien, faktor keturunan, kualitas pakan,
sistem pemeliharaan, iklim dan umur telur. Menurut Nurhadi, Dkk.(2006)
Menjelaskan bahwa pada sistem menejemen penetasan telur, yang harus
diperhatikan diantaranya:
1. Suhu
(Temperatur)
2. Kelembaban
Udara (Humidity)
3. Ventilasi
(Ventilation)
4. Frekuensi
Pemutaran Telur (Egg Turning)
5. Kebersihan (Cleanliness).
6. Bobot
telur yang akan mempengaruhi hasil bobot tetas DOC
Daya Tetas dipengaruhi oleh penyiapan telur, faktor
genetik, suhu dan kelembaban, umur induk, kebersihan telur, ukuran telur,
nutrisi dan fertilitas telur (Sutiyono dan Krismiati, 2006). Menurut Prasetyo
dan Susanti (2000) Hasil tetas telur dipengaruhi oleh faktor peralatan mesin
tetas dalam menciptakan kondisi lingkungan (kelembaban dan temperatur) yang harus
disesuaikan dengan persyaratan menetasan telur, dan faktor lingkungan diluar
kemampuan pengelola misalnya terjadi perubahan tegangan listrik maupun
pemadaman listrik.
Teknik penyimpanan pada penetasan yang lama,
dapat mengkibatkan terjadinya penimbahan
besar kantung udara yang akan
mempengaruhi kualitas telur, sehingga posisi peletakan dan lama
penyimpanan merupakan dua faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya
mempertahankan kualitas telur. Untuk menghindari adanya penimbahan kantung
udara, maka dalam proses penyimpanan telur diperlukan tahap pemutaran yang
teratur. Pada tahap pemutaran telur, sebaiknya dilaksanakan paling sedikit 2
kali atau lebih baik diputar 6,8, sampai 10 kali sehari dengan setengah putaran.
Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan lebih cepat menetas (daya tetas)
sehingga kandungan air di dalamnya tidak akan banyak hilang yang dapat membuat bobot
badan DOC meningkat, dan sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan membuat telur
tidak cepat menetas (daya tetas) dengan baik, sehingga terjadi penguapan yang berlebihan
dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang dapat membuat bobot badan DOC
akan berkurang (Bachar.Irawati.2006). Menurut Mahi, Muhammad, Dkk (2012) untuk Pemutaran telur dilakukan mulai hari 3 sampai dengan hari
ke 14. Pemutaran dilakukan tiga kali sehari, pada pukul 06.00, 13.30 dan 21.00
dan temperature yang digunakan harus dapat memberi kelembapan dan memberi suhu
yang pas pada telur tetas sampai terlihat keretakan pada telur, kemudian
kelembaban dinaikkan. Untuk teknik
pemutaran telur, dijelaskan Suradi ,Kusmajadi(2006) bahwa, pada pemutaran telur
posisi Kantung udara berada pada bagian tumpul dari telur. Posisi
peletakan telur dengan bagian tumpul di bawah akan menyebabkan ruang udara tertekan
dari isi telur.
Pada proses penetasan, antara Temperatur dan kelembaban dalam mesin tetas
harus stabil untuk mempertahankan kondisi telur pada keadaan yang normal. Telur
akan optimal menetas jika berada pada temperatur antara 94-104°F (36-40°C) dan
dalam kelembapan 70 %. Hodgetts (2000), menyatakan suhu yang optimum untuk
penetasan adalah 37,8°C, dengan kisaran 37,2-38,2°C. Embrio tidak toleran
terhadap perubahan temperatur dan kelembapan yang drastis. Dimana ketika Temperatur
yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian embrio ataupun abnormalitas
embrio, sedangkan kelembaban mempengaruhi pertumbuhan normal dari embrio
(Wulandari, 2002). Menurut Rarasati (2002) suhu yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan telur mengalami dehidrasi atau kekeringan, sehingga DOC yang dihasilkan
akan lemah, akibatnya DOC akan mengalami kekerdilan dan mortalitas yang tinggi.
Ketika temperatur terlalu rendah, akan menyebabkan perkembangan organ-organ
embrio tidak berkembang secara proporsional (Susila, 1997). Wiharto (1988)
menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas
dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak
mencukupi. Rakhman (2005) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah
normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan
apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang
ditentukan.
Bachar.Irawati (2006) menyatakan bahwa penyimpanan telur tetas sebaiknya,
tidak lebih dari 4 hari dan suhu yang paling sesuai untuk menyimpan telur tetas
adalah 10 – 13°C. Ningtyas, Maulidya Siella. Dkk (2013) menyatakan bahwa peningkatan suhu
penetasan pada saat hari ke-16 akan mengurangi telur fertil yang menetas dan
embrio muda sangat sensitif terhadap perubahan suhu penetasan. Suhu di ruang
inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2°C dari kisaran suhu
standar. Suhu standar untuk penetasan berkisar antara 36°C-39°C. Jika terjadi
penurunan suhu terlalu lama biasanya telur akan menetas lebih lambat dari 21
hari dan kalau terjadi kenaikan suhu melebihi dari suhu normal maka embrio akan
mengalami dehidrasi dan akan mati (Hamdy, 2001).
|
Hari
|
°C
|
°F
|
%
|
|
1-3
|
39
|
101
|
50-60
|
|
4-7
|
39,5
|
102
|
50-60
|
|
8-12
|
40
|
103
|
50-60
|
|
13-17
|
40,5
|
104
|
50-60
|
|
18-21
|
40,5-41
|
104-105
|
75
|
Tabel
temperatur dan kelembapan unggas dari hari ke hari
Selain kelembapan, sistem
sirkulasi udara juga menentukan fertilis dari telur tetas. Pada mesin penetas, Ventilasi
harus stabil, agar sirkulasi udara di dalam mesin tetas berjalan dengan
baik. Dalam perkembangan normal, embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan
karbondioksida (CO2) melalui pori-pori kerabang telur. Untuk itu, dalam
pembuatan alat penetas telur/mesin tetas harus diperhatikan cukup tidaknya
oksigen yang ada dalam bok/ruangan, karena jika tidak ada oksigen yang cukup
dalam bok/ruangan dikhawatirkan embrio gagal berkembang. (Farry B. Paimin, 2004).
menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) Mesin tetas
dihidupkan selama 2 x 24 jam dengan suhu antara 370C–390C diukur dengan
menggunakan termometer, dalam keadaan ventilasi tertutup dan bak air terisi.
Dalam tahap penyimpanan telur, sebaiknya ruang
penyimpanan telur tetas juga perlu dibersihkan dari benda-benda yang berbau
tajam, sehingga bau yang dibawa oleh benda tersebut tidak terbawa telur saat
disimpan dimesin penetasan. Selain itu, pembersihan juga perlu dilaksanakan
pada telur yang akan diawetkan untuk menghilangkan kotoran dari permukaan kulit
telur. Pembersihan ini dilakukan dengan mencuci telur dengan tidak mengubah
struktur pori-pori, tidak mengubah sifat mengembang pada telur dan kontraksi
isi telur. Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) teknik pembersihan
kulit kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan kapas yang sudah
dicelupkan ke dalam alkohol untuk membersihkan kotoran dan membunuh mikroorganisme
yang melekat pada kulit telur Mesin tetas dan peralatannya dibersihkan dengan hand
sprayer, setelah kering difumigasi dengan menggunakan gas. Massa telur juga
akan member pengaruh terhadap daya tetas telur. Dimana telur pada ayam kampung
memiliki berat telur jenis sekitar 35-40 gr. Telur tetas yang baik ialah yang
memiliki massa yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.
Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006), bentuk telur yang
lancip dapat menerima panas suhu ruang inkubasi dengan baik, sehingga proses
metabolisme embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga berbobot
tetas lebih rendah bila dibandingkan dengan telur dengan bentuk bulat. Dan
bobot tetas telur yang lancip lebih tinggi dari telur bulat atau tumpul. Selain
itu ukuran besar telur juga berpengaruh pada ukuran besar anak ayam yang baru
menetas, dan pengaruhnya tidak terlihat pada anak yang berumur 35 hari. Bobot
telur akan mempengaruhi bobot tetas. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan
jumlah kandungan putih telur dan kuning telurnya. Semakin besar bobot telur,
maka kandungan putih telur dan kuning telur juga semakin besar, dimana putih
telur dan kuning telur tersebut merupakan sumber makanan bagi embrio dalam
telur. faktor-faktor yang mempengaruhi bobot telur antara lain adalah : breed,
umur, nutrisi pakan, molting, suhu dan lingkungan, program pencahayaan, serta
umur dewasa kelamin.
3. Proses Akhir Penetasan
Pada proses akhir
penetasan, dilakukan penyemprotan agar kelembaban tetap
terjaga. Penyeprotan dilakukan pada Hari
ke 19 dan tidak lagi dilakukan pembalikan telur. Teknik penyemprotan dilakukan
dengan sedikit membasuh atau menyemprotkan air pada permukaan cangkang telur
agar cangkang menjadi lunak. Langkah ini dilakukan sampai telur mulai menetas. Pada Hari ke 20 sampai hari ke 22, ketika telur
sudah menetas, maka anak tetas segera dipindahkan ke wadah lain. Pada tahap akhir penetasan, juga akan
dilakukan peneropongan seperti yang dikatakan Bachar.Irawati (2006) bahwa Peneropongan dilakukan
pada hari ke-4 dan hari ke-18 dengan menggunakan candler. Bila
peneropongan pada hari ke-4 menunjukkan gejala infertile, telur tersebut
dapat diafkir dan dikonsumsi. Sebaliknya kalau pada hari ke-18 tidak ada gejala
kehidupan embrio, telur segera dibuang. 10. Pada hari ke-21 dihitung daya tetas
dan ditimbang bobot badan DOC dari telur tetas ayam kampung.
Ningtyas,
Maulidya Siella. Dkk.(2013)
menyebutkan bahwa Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil tetas pada suhu
36°C dikarenakan kematian embrio yang tinggi dan pada minggu terakhir penetasan
banyak telur yang mengeluarkan busa karena busuk. Kejadian ini paling banyak
disebabkan oleh kelembaban mesin tetas pada akhir masa inkubasi yang terlalu
rendah, sehingga akan mempercepat penguapan air dari telur dan embrio akan
kekeringan.padahal Kelembaban udara
berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan
kerabang telur. Jika kelembaban tidak optimal, embrio tidak mampu memecahkan
kerabang yang terlalu keras. Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati
antara hari ke-22 sampai ke-27 selama inkubasi. Hal ini biasa disebut dead-in-shell
dan terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama, embrio tumbuh dan
berkembang secara normal, tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang.
Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. Kategori kedua mati pada
hari yang sama, tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur
dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang
kepala. Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embrio
memecah kerabang yang gagal. Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari
ke-28. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama
berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang.
Untuk mempertahankan kelembaban yang stabil, persediaan air didalam bak
penampung harus selalu tersedia dan cukup
Daftar Pustaka:
Bachar,.Irawati; Iskandar Sembiring, dan Dedi Suranta
Tarigan.2006. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur terhadap Daya Tetas dan Bobot
Badan DOC Ayam Kampung (The Effect of
Egg Centrifugation Frequency on Hatchability and Body Weight DOC of Free range
Chicken. Jurnal
Agribisnis Perternakan, Vol. 2, No. 3.
Hamdy, A. M. M., A. M. Henken, W.
V. D. Hel, A. G. Galal and A. K. I. Abd. Elmoty. 2001. Effect on Incubation
Humidy and Hatching Time on Heat Tolerance of Neonatal Chick : Growth
Performance After Heat Expo Sure. Poul
Muhammad Mahi, Achmanu, And
Muharlien.2012. Pengaruh Bentuk Telur Dan Bobot Telur Terhadap Jenis Kelamin, Bobot Tetas
Dan Lama Tetas Burung Puyuh (Coturnix-Coturnix
Japonica). Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya:Malang
Ningtyas, Maulidya Siella. Ismoyowati,
Ibnu Hari Sulistyawan 2013. Pengaruh
Temperatur Terhadap Daya Tetas Dan Hasil Tetas Telur Itik (Anas
Plathyrinchos) (The Effect Of Temperature On Hatchability And Egg Hatching
Yield Duck (Anas Platyrinchos)). Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):347-352,
Nurhadi, Imam dan Eru
Puspita.2006. Rancang Bangun Mesin Penetas Telur Otomatis Berbasis Mikrokontroler
Atmega8 Menggunakan Sensor Sht 11. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya:Surabaya
Paimin,
F.B. 2004. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prasetyo, L.H. dan T. Susanti.
2000. Persilangan timbale balik antara itik Alabio dan Mojosari Periode awal
bertelur. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, Vol. 5, No. 4 : 210-213.
Rakman, B. 2005. Pengaruh Bobot Tetas Terhadap Mortalitas,
Bobot Akhir, Laju Pertumbuhan Itik Tegal. Skripsi. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Rarasati. 2002. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Pada Penetasan
Telur Itik Terhadap Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Laporan Hasil Penelitian.
Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. try Science 70 : 1507-1515.
Hodgetts. 2000. Incubation The Psichal Requiments. Abor
Acress service Bulletin No 15, August 1.
Suradi ,Kusmajadi.2006.Perubahan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Posisi
Peletakan Berbeda Selama Penyimpanan Suhu
Refrigerasi (The Changing of Hen's Egg Quality with
Diffferent Laying Position During
Refrigerator Temperature Storage)
Susila, A. B. 1997. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur dan Berat
Telur Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Mortalitas, dan Berat DOD Itik Tegal. Skripsi. Fakultas Peternakan.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sutiyono, S. Riyadi, dan S.
Kismiati. 2006. Fertilitas dan Daya Tetas
Telur dari Ayam Petelur Hasil Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Ayam Kampung
yang Diencerkan Dengan Bahan Berbeda.
Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Wulandari, A. 2002. Pengaruh Indeks dan Bobot Telur Itik Tegal Terhadap Daya Tetas, Kematian
Embrio dan Hasil Tetas. Skripsi Fakultas
Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Wiharto. 1988. Petunjuk
Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Universitas Brawijaya.