Selasa, 19 Mei 2015

makalah tentang penetasan ayam kampung Gallus domestikus



Dalam rangka mengembangkan populasi bangsanya serta menghasilkan individu baru dari bangsanya, maka ternak unggas memerlukan penetasan telur fertile yang baik, yang ditetaskan melalui teknik penetasan yang baik pula. Berikut adalah penjelasan pada tahap penetasan.
1.      Persiapan Penetasan
Persiapan penetasan diawali dengan mempersiapkan mesin tetas pada suhu 36-37°C, 37-38°C, 38-39°C, membersihkan telur, menimbang bobot telur, memasukkan telur kemesin tetas untuk  perlakuan, mengontrol suhu mesin tetas, melakukan candling pada hari ke-7 dan 21, dan pada akhir penetasan dilakukan penyemprotan agar kelembapan tetap terjaga. Untuk mempertahankan kondisi tersebut maka telur diletakkan  pada refrigerator dengan kondisi diatas suhu -2°C (28°F ) untuk mencegah kerusakan telur karena pada suhu penyimpanan tersebut pelepasan CO2 dan air dari dalam telur dapat dihambat (Suradi,Kusmajadi.2006 ). Menurut Mahi, Muhammad, Dkk (2012) Sebelum telur dimasukkan ke mesin penetas, telur akan  difumigasi dengan larutan kalium permanganat - formalin. Selanjutnya, Telur dibersihkan kemudian ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan bentuk telur dan bobotnya. Telur selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin penetas.
2.      Proses Penetasan
Pada tahap penetasan telur ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menunjang telur tetas yang fertil, diantaranya pelaksanaan menejemen pemeliharaan unggas seperti : penyediaan bibit, dan penerapan sistem penetasan yang baik dan efisien, faktor keturunan, kualitas pakan, sistem pemeliharaan, iklim dan umur telur. Menurut Nurhadi, Dkk.(2006) Menjelaskan bahwa pada sistem menejemen penetasan telur, yang harus diperhatikan diantaranya:
1.      Suhu (Temperatur)
2.      Kelembaban Udara (Humidity)
3.      Ventilasi (Ventilation)
4.      Frekuensi Pemutaran Telur (Egg Turning)
5.       Kebersihan (Cleanliness).
6.      Bobot telur yang akan mempengaruhi hasil bobot tetas DOC
Daya Tetas dipengaruhi oleh penyiapan telur, faktor genetik, suhu dan kelembaban, umur induk, kebersihan telur, ukuran telur, nutrisi dan fertilitas telur (Sutiyono dan Krismiati, 2006). Menurut Prasetyo dan Susanti (2000) Hasil tetas telur dipengaruhi oleh faktor peralatan mesin tetas dalam menciptakan kondisi lingkungan (kelembaban dan temperatur) yang harus disesuaikan dengan persyaratan menetasan telur, dan faktor lingkungan diluar kemampuan pengelola misalnya terjadi perubahan tegangan listrik maupun pemadaman listrik.
Teknik penyimpanan pada penetasan yang lama, dapat  mengkibatkan terjadinya penimbahan besar kantung udara yang akan  mempengaruhi kualitas telur, sehingga posisi peletakan dan lama penyimpanan merupakan dua faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mempertahankan kualitas telur. Untuk menghindari adanya penimbahan kantung udara, maka dalam proses penyimpanan telur diperlukan tahap pemutaran yang teratur. Pada tahap pemutaran telur, sebaiknya dilaksanakan paling sedikit 2 kali atau lebih baik diputar 6,8, sampai 10 kali sehari dengan setengah putaran. Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan lebih cepat menetas (daya tetas) sehingga kandungan air di dalamnya tidak akan banyak hilang yang dapat membuat bobot badan DOC meningkat, dan sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan membuat telur tidak cepat menetas (daya tetas) dengan baik, sehingga terjadi penguapan yang berlebihan dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang dapat membuat bobot badan DOC akan berkurang (Bachar.Irawati.2006). Menurut Mahi, Muhammad, Dkk (2012) untuk Pemutaran telur dilakukan mulai hari 3 sampai dengan hari ke 14. Pemutaran dilakukan tiga kali sehari, pada pukul 06.00, 13.30 dan 21.00 dan temperature yang digunakan harus dapat memberi kelembapan dan memberi suhu yang pas pada telur tetas sampai terlihat keretakan pada telur, kemudian kelembaban dinaikkan. Untuk teknik pemutaran telur, dijelaskan Suradi ,Kusmajadi(2006) bahwa, pada pemutaran telur posisi Kantung udara berada pada bagian tumpul dari telur. Posisi peletakan telur dengan bagian tumpul di bawah akan menyebabkan ruang udara tertekan dari isi telur.
Pada proses penetasan, antara  Temperatur dan kelembaban dalam mesin tetas harus stabil untuk mempertahankan kondisi telur pada keadaan yang normal. Telur akan optimal menetas jika berada pada temperatur antara 94-104°F (36-40°C) dan dalam kelembapan 70 %. Hodgetts (2000), menyatakan suhu yang optimum untuk penetasan adalah 37,8°C, dengan kisaran 37,2-38,2°C. Embrio tidak toleran terhadap perubahan temperatur dan kelembapan yang drastis. Dimana ketika Temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian embrio ataupun abnormalitas embrio, sedangkan kelembaban mempengaruhi pertumbuhan normal dari embrio (Wulandari, 2002). Menurut Rarasati (2002) suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi atau kekeringan, sehingga DOC yang dihasilkan akan lemah, akibatnya DOC akan mengalami kekerdilan dan mortalitas yang tinggi. Ketika temperatur terlalu rendah, akan menyebabkan perkembangan organ-organ embrio tidak berkembang secara proporsional (Susila, 1997). Wiharto (1988) menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Rakhman (2005) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan.
Bachar.Irawati (2006) menyatakan bahwa penyimpanan telur tetas sebaiknya, tidak lebih dari 4 hari dan suhu yang paling sesuai untuk menyimpan telur tetas adalah 10 – 13°C.  Ningtyas, Maulidya Siella. Dkk (2013) menyatakan bahwa peningkatan suhu penetasan pada saat hari ke-16 akan mengurangi telur fertil yang menetas dan embrio muda sangat sensitif terhadap perubahan suhu penetasan. Suhu di ruang inkubasi tidak boleh lebih panas atau lebih dingin 2°C dari kisaran suhu standar. Suhu standar untuk penetasan berkisar antara 36°C-39°C. Jika terjadi penurunan suhu terlalu lama biasanya telur akan menetas lebih lambat dari 21 hari dan kalau terjadi kenaikan suhu melebihi dari suhu normal maka embrio akan mengalami dehidrasi dan akan mati (Hamdy, 2001).




Hari
°C
°F
%
1-3
39
101
50-60
4-7
39,5
102
50-60
8-12
40
103
50-60
13-17
40,5
104
50-60
18-21
40,5-41
104-105
75
Tabel temperatur dan kelembapan unggas dari hari ke hari
Selain kelembapan, sistem sirkulasi udara juga menentukan fertilis dari telur tetas. Pada mesin penetas, Ventilasi harus stabil, agar sirkulasi udara di dalam mesin tetas berjalan dengan baik. Dalam perkembangan normal, embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori-pori kerabang telur. Untuk itu, dalam pembuatan alat penetas telur/mesin tetas harus diperhatikan cukup tidaknya oksigen yang ada dalam bok/ruangan, karena jika tidak ada oksigen yang cukup dalam bok/ruangan dikhawatirkan embrio gagal berkembang. (Farry B. Paimin, 2004). menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) Mesin tetas dihidupkan selama 2 x 24 jam dengan suhu antara 370C–390C diukur dengan menggunakan termometer, dalam keadaan ventilasi tertutup dan bak air terisi.
Dalam tahap penyimpanan telur, sebaiknya ruang penyimpanan telur tetas juga perlu dibersihkan dari benda-benda yang berbau tajam, sehingga bau yang dibawa oleh benda tersebut tidak terbawa telur saat disimpan dimesin penetasan. Selain itu, pembersihan juga perlu dilaksanakan pada telur yang akan diawetkan untuk menghilangkan kotoran dari permukaan kulit telur. Pembersihan ini dilakukan dengan mencuci telur dengan tidak mengubah struktur pori-pori, tidak mengubah sifat mengembang pada telur dan kontraksi isi telur. Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006) teknik pembersihan kulit kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam alkohol untuk membersihkan kotoran dan membunuh mikroorganisme yang melekat pada kulit telur Mesin tetas dan peralatannya dibersihkan dengan hand sprayer, setelah kering difumigasi dengan menggunakan gas. Massa telur juga akan member pengaruh terhadap daya tetas telur. Dimana telur pada ayam kampung memiliki berat telur jenis sekitar 35-40 gr. Telur tetas yang baik ialah yang memiliki massa yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.
Menurut Bachar.Irawati. Dkk (2006), bentuk telur yang lancip dapat menerima panas suhu ruang inkubasi dengan baik, sehingga proses metabolisme embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga berbobot tetas lebih rendah bila dibandingkan dengan telur dengan bentuk bulat. Dan bobot tetas telur yang lancip lebih tinggi dari telur bulat atau tumpul. Selain itu ukuran besar telur juga berpengaruh pada ukuran besar anak ayam yang baru menetas, dan pengaruhnya tidak terlihat pada anak yang berumur 35 hari. Bobot telur akan mempengaruhi bobot tetas. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah kandungan putih telur dan kuning telurnya. Semakin besar bobot telur, maka kandungan putih telur dan kuning telur juga semakin besar, dimana putih telur dan kuning telur tersebut merupakan sumber makanan bagi embrio dalam telur. faktor-faktor yang mempengaruhi bobot telur antara lain adalah : breed, umur, nutrisi pakan, molting, suhu dan lingkungan, program pencahayaan, serta umur dewasa kelamin.
3.      Proses Akhir Penetasan
Pada proses akhir penetasan, dilakukan penyemprotan agar kelembaban tetap terjaga. Penyeprotan dilakukan pada Hari ke 19 dan tidak lagi dilakukan pembalikan telur. Teknik penyemprotan dilakukan dengan sedikit membasuh atau menyemprotkan air pada permukaan cangkang telur agar cangkang menjadi lunak. Langkah ini dilakukan sampai telur mulai menetas. Pada  Hari ke 20 sampai hari ke 22, ketika telur sudah menetas, maka anak tetas segera dipindahkan ke wadah lain. Pada tahap akhir penetasan, juga akan dilakukan peneropongan seperti yang dikatakan Bachar.Irawati (2006) bahwa Peneropongan dilakukan pada hari ke-4 dan hari ke-18 dengan menggunakan candler. Bila peneropongan pada hari ke-4 menunjukkan gejala infertile, telur tersebut dapat diafkir dan dikonsumsi. Sebaliknya kalau pada hari ke-18 tidak ada gejala kehidupan embrio, telur segera dibuang. 10. Pada hari ke-21 dihitung daya tetas dan ditimbang bobot badan DOC dari telur tetas ayam kampung.
Ningtyas, Maulidya Siella. Dkk.(2013) menyebutkan bahwa Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil tetas pada suhu 36°C dikarenakan kematian embrio yang tinggi dan pada minggu terakhir penetasan banyak telur yang mengeluarkan busa karena busuk. Kejadian ini paling banyak disebabkan oleh kelembaban mesin tetas pada akhir masa inkubasi yang terlalu rendah, sehingga akan mempercepat penguapan air dari telur dan embrio akan kekeringan.padahal  Kelembaban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. Jika kelembaban tidak optimal, embrio tidak mampu memecahkan kerabang yang terlalu keras. Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati antara hari ke-22 sampai ke-27 selama inkubasi. Hal ini biasa disebut dead-in-shell dan terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama, embrio tumbuh dan berkembang secara normal, tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang. Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. Kategori kedua mati pada hari yang sama, tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang kepala. Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embrio memecah kerabang yang gagal. Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari ke-28. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang. Untuk mempertahankan kelembaban yang stabil, persediaan air didalam bak penampung harus selalu tersedia dan cukup

Daftar Pustaka:
Bachar,.Irawati; Iskandar Sembiring, dan Dedi Suranta Tarigan.2006. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur terhadap Daya Tetas dan Bobot Badan DOC Ayam Kampung (The Effect of Egg Centrifugation Frequency on Hatchability and Body Weight DOC of Free range Chicken. Jurnal Agribisnis Perternakan, Vol. 2, No. 3.
Hamdy, A. M. M., A. M. Henken, W. V. D. Hel, A. G. Galal and A. K. I. Abd. Elmoty. 2001. Effect on Incubation Humidy and Hatching Time on Heat Tolerance of Neonatal Chick : Growth Performance After Heat Expo Sure. Poul
Muhammad Mahi, Achmanu, And Muharlien.2012. Pengaruh Bentuk Telur Dan Bobot Telur Terhadap Jenis Kelamin, Bobot Tetas Dan Lama Tetas Burung Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica). Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya:Malang
Ningtyas, Maulidya Siella. Ismoyowati, Ibnu Hari Sulistyawan 2013. Pengaruh Temperatur Terhadap Daya Tetas Dan Hasil Tetas Telur Itik (Anas Plathyrinchos) (The Effect Of Temperature On Hatchability And Egg Hatching Yield Duck (Anas Platyrinchos)). Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):347-352,
Nurhadi, Imam dan Eru Puspita.2006. Rancang Bangun Mesin Penetas Telur Otomatis Berbasis Mikrokontroler Atmega8 Menggunakan Sensor Sht 11. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya:Surabaya
Paimin, F.B. 2004. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prasetyo, L.H. dan T. Susanti. 2000. Persilangan timbale balik antara itik Alabio dan Mojosari Periode awal bertelur. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, Vol. 5, No. 4 : 210-213.
Rakman, B. 2005. Pengaruh Bobot Tetas Terhadap Mortalitas, Bobot Akhir, Laju Pertumbuhan Itik Tegal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Rarasati. 2002. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Pada Penetasan Telur Itik Terhadap Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Laporan Hasil Penelitian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. try Science 70 : 1507-1515.
Hodgetts. 2000. Incubation The Psichal Requiments. Abor Acress service Bulletin No 15, August 1.
Suradi ,Kusmajadi.2006.Perubahan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Posisi
Peletakan Berbeda Selama Penyimpanan Suhu Refrigerasi (The Changing of Hen's Egg Quality with Diffferent Laying Position During Refrigerator Temperature Storage)
Susila, A. B. 1997. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur dan Berat Telur Terhadap Fertilitas, Daya Tetas, Mortalitas, dan Berat DOD Itik Tegal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sutiyono, S. Riyadi, dan S. Kismiati. 2006. Fertilitas dan Daya Tetas Telur dari Ayam Petelur Hasil Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Ayam Kampung yang Diencerkan Dengan Bahan Berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.
Wulandari, A. 2002. Pengaruh Indeks dan Bobot Telur Itik Tegal Terhadap Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Universitas Brawijaya.

Selasa, 12 Mei 2015

contoh makalah mengenai hama dan penyakit pada murbei

Ilmu Produksi Aneka Ternak
Hama Dan Penyakit Pada Daun Murbei 

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013/2014



Bab I. Pendahuluan

1.1.Latar belakang
Daun tanaman murbei (Morus sp) merupakan pakan alami untuk perkembangan ulat sutra (Bombyx mori). Kualitas yang dihasilkan daun murbei akan mendukung kualitas kokon yang dihasilkan. Produktivitas dan kualitas kokon ulat sutera serta benang sutera sangat dipengaruhi oleh kondisi pakan daun murbei. Kuantitas dan kualitas daun murbei dipengaruhi oleh jenis murbei, kualitas bibit, teknik budidaya yang intensif. Dalam proses pembudidayaan daun murbai, juga tidak terhindar dari serangan oleh hama dan penyakit yang merusak tanaman hingga menurunkan produksi daun murbei dan mempengaruhi perkembangbiaka ulat sutra. Pada teknik budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera, sangat dipengaruhi oleh teknologi reeling dan re-reeling yang mutakhir serta mesin modern yang dapat menghasilkan benang sutera yang berkualitas baik sehingga mampu bersaing di pasar international.
            Di Indonesia, hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai, diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.
            Dengan mengetahui mengenai apa dan bagaimana suatu hama dan penyakit yang menyerang pada tananman murbei sehingga hasil yang di harapkan akan berkurang dari tarjet, maka kita akan dapat membuat suatu penanganan yang cocok dan tepat dalam membasmi ataupn mencegah hama dan penyakit tersebut. Dan nantinya yang diharapkan adalah hasil panen murbei yang optimum dan dapat mencukupi pakan dari ulat sutra yang dibudidayakan.
a.      Identifikasi masalah
2.      Hama dan penyakit apa saja yang sering menyerang daun murbei?
3.      Bagaimana daur hidup hama dan penyakit pada daun murbai?
4.      Bagaimana pengendalian hama dan penyakit pada daun murbai?



1.3.Tujuan Makalah
Untuk mengidentifikasi hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei serta untuk menentukan cara pengendalian yang efektif terhadap hama penyakit tersebut tetapi tidak menimbulkan kematian bagi ulat sutera yang makan daun murbei
1.4.Kegunaan Makalah
            Dengan mengetahui daur hidup dari hama dan penyakit yang sering menyerang daun murbei, diharapkan dapat mmenentukan pengendalian yang tepat serta efektif untuk menghentikan perkembangan hama dan penyakit pada daur hidup.

BAB II. PEMBAHASAN
Pada sistem pemeliharaan dan penanaman daun murbei, untuk menghasilkan produktifitas yang optimal maka diperlukan penanganan pada saat penanaman daun murbei. Penanganan tersebut dapat berupa: persiapan lahan,sistem tanam yang disesuaikan dengan lahan tepat penanaman daun murbei, pemeliharaan kebun yang dikelola mulai dari pemangkasan batang hingga pengendalian dari hama maupun penyakit yang dapat menyerang pada tanaman murbei. Berikut adalah penjelasan dari hama dan penyakit pada daun murbei.
2.1. Hama Penyakit Tanaman Murbei
Tanaman murbei yang banyak ditanam di Jawa Barat adalah Morus multicaulis, M.cathayana dan M. Nigra. Daun tanaman murbei merupakan makanan pokok ulat sutera (Bombyx mori).
Hama yang banyak menyerang pucuk daun murbei adalah :
A. Glyphodes Pulverulentalis
Serangga ini termasuk ordo Lepidoptera. Ulatnya lebih menyukai daun tanaman murbei M. multicaulis karena daunnya lebih lembut dibandingkan dengan varietas yang lain. Kerusakan terjadi pada tanaman murbei di persemaian dan di lapangan terutama 1 – 2 bulan setelah pangkas. Siklus hama ini kurang lebih 25 hari, larva berwarna hijau bening, kepala coklat dan setelah dewasa menjadi coklat kemerah-merahan. Umur larva 8 – 10 hari, ulat yang baru menetas akan memakan daun yang masih lunak sedangkan ulat instar IV memakan jaringan daun akibatnya daun berubah menjadi coklat transparan dan meninggalkan kotoran hitam. Kerusakan terjadi diantara musim hujan dan awal musim kemarau.
Sebelum menjadi pupa, ulat menggulung daun yang dimakannya dengan mengeluarkan serat dan membuat kokon didalamnya. Umur pupa 7 hari kemudian berubah menjadi ngengat, panjang badan 10 mm, sayap berwarna coklat dengan bintik-bintik kelabu (Sunanto, 1997).
B. Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus Hirsutus)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, mengalami metamorfosa tidak sempurna, badannya ditutupi oleh tepung putih. Siklus hidup kira-kira 35 hari, nimpha dan dewasa mengeluarkan embun madu yang menyebabkan semut berdatangan atau embun tersebut dapat menjadi media tumbuh cendawan Septobasidium dan diikuti dengan cendawan (Corticidium) yang berwarna hitam.
Kutu ini merusak daun, kuncup dan tunas muda dengan menghisap cairan, sehingga pertumbuhan pucuk terhalang atau terhenti. Daun mengkerut, keriting dan berubah bentuk. Pertumbuhan tunas terhenti, kuncup daun membengkak, ruas antara pucuk daun menjadi pendek yang mengakibatkan cabang membengkak tidak dapat berkembang serta mudah patah Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan, 1996).

Gambar Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus Hirsutus)
C. Kutu Batang (Psedaulacapsis Pentagona)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, menyerang tanaman murbei yang terlindungi oleh pohon-pohon besar atau karena kondisi lembab. Bentuk nimpha dan dewasa terdapat pada cabang atau batang, menghisap cairan tanaman menyebabkan kulit cabang atau batang menjadi putih keabu-abuan. Jika serangan cukup berat akan menyebabkan kematian tanaman (Sunanto, 1997).

D. Hama Breng/Kutu Kebul (Bemisia Myricae)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, family : Aleurodidae, banyak ditemukan di bawah permukaan daun. Serangan serangga ini banyak terjadi pada bulan Mei dan Juni. Bentuk nimpha dan dewasa menusuk cairan daun dan meninggalkan sekresi berupa embun madu yang menyebabkan daun berwarna hitam karena pada embun tersebut tumbuh cendawan jelaga (F.A.O., 1988).
Daun murbei yang telah diisap cairannya baik oleh kutu daun dan kutu kebul tidak dapat digunakan sebagai pakan ulat sutera karena bila termakan akan mengakibatkan ulat sutera sakit dan mati.

Gambar Hama Breng/Kutu Kebul
2.2. Berbagai Jenis Penyakit Yang Menyerang Tanaman Murbei
A. Penyakit Tepung Disebabkan Oleh Dendawan (Phylllactinia Moricola)
Penyakit ini menyerang daun dengan muculnya bintik-bintik putih atau keputih-putihan pada bagian bawah daun kemudian menyebar pada permukaan daun seperti tepung putih. Biasanya menyerang daun yang telah dewasa (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996).
Penyebaran : konidia terbawa angin kemudian melekat pada cabang, batang, pucuk
Cara Pencegahan
1. Jangan menanam ras-ras murbei yang mudah mengeras, contoh : Akagi, Tsurutu.
2. Mencegah penanaman murbei yang rapat.
3. Mengumpulkan daun-daun yang terserang, kemudian dibakar atau dimasukkan di dalam tanah.
4. Disemprot dengan bahan-bahan kimia, contoh: bubur korado

Gambar
B. Penyakit Bintik Daun Oleh Cendawan ( Sirosporium Mori)
Gejala penyakit : pada sisi daun terdapat bintik coklat gelap tidak teratur. Pada bintik terkumpul spora kecil warna putih atau merah muda. Penyakit berkembang cepat pada kondisi lembab, sirkulasi udara jelek.
Cara pencegahan :
1. Memperbaiki drainase dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N.
)
C. Penyakit Plasta (Septobasidium Bogoriensi)
Pada cabang muncul bintik-bintik kecil yang lama-kelamaan meluas melingkari cabang. Bintik penyakit ini berwarna kelabu, muncul pada cabang dan batang terlihat seperti plester yang ditempel, permukaannya licin. Selanjutnya bagian tengah berubah menjadi warna coklat tua dan retak. Serangan penyakit ini bersimbiose dengan serangan kutu batang terutama berkembang pada jelaga yang dikeluarkan oleh kutu tersebut (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996).
Cara Pencegahan
1. Memusnahkan kutu batang
2. Membuang miselia-miselia cendawan
3. Mengurangi cabang-cabang atau membuat pangkasan rendah
4. Sirkulasi udara dalam kebun harus baik
D. Penyakit Karat (Accidium Maci / Barclay)
Penyebab : Cendawan
Gejala kerusakan : Terjadi penebalan pada kuncup daun, tunas-tunas muda. Bagian yang terserang menjadi kuning terang, kuning orange. Daun berbintik-bintik dan pada bintik-bintik terdapat badan buah (Accidium) berbentuk bundar atau bulat telur.
Penyebaran : Melalui angin
Cara Pencegahan
1. Bagian tanaman yang terserang dikumpulkan sebelum musim penghujan dibakar.
2. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit).
3. Menjaga sirkulasi udara dalam kebun, jangan jelek.
4. Sanitasi kebun yang baik dengan mengurangi gulma.

E. Penyakit Bakteri (Pseudomonas Siringae Pv Mori )
Gejala penyakit :
o Timbul bintik nekrosis yang akhirnya berlubang pada tunas-tunas muda
o Tangkai dan urat-urat daun yang nekrosis mengkerut, menggulung, kuning, dan akhirnya daun gugur
o ujung cabang hitam, layu, dan mati
Cara pengendalian :
1. Mengatur drainase dan sirkulasi udara dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N
3. Membuang sumber infeksi
4. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit

2.3. Insektisida Yang Digunakan
1. Insektisida Botani atau Biorasional.
Insektisida botani adalah campuran dari daun nimba (Azadirachta indica), daun serai wangi (Cymbopogon nardus) dan rimpang lengkuas (Alpinia galangal).
Daun nimba mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antifeedant, repellent dan racun kontak. Kandungan minyak yang terdapat dalam daun serai wangi berfungsi sebagai pewangi detergent dan juga sebagai penghalau serangga. Rimpang lengkuas banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan.
Hill dan Waller (1988) menyatakan respon serangga yang terkena ekstrak nimba dapat langsung mati dan ada juga yang menjadi cacat tubuhnya akibat terganggunya proses ganti kulit, Ekstrak daun serai wangi yang mengandung minyak atsiri, senyawa aldehid diduga mempunyai sifat menolak terhadap serangga. Sedangkan rimpang lengkuas mempunyai difat mengurangi nafsu makan terhadap serangga. Campuran daun nimba : daun serai wangi : rimpang lengkuas dengan ratio 8 kg : 6 kg : 6 kg per ha mampu menekan hama yang bentuk dewasa dan terbang, berpindah-pindah, lincah seperti hama breng (kutu kebul) (Kardinan, 2002 dan Pasetriyani, 1996).
2. Insektisida kimia, Confidor 200 SL.
Bahan aktif insektisida ini adalah imidokloporid 200 gr/liter. Insektisida ini bersifat sistemik, kontak dan lambung. Insektisida ini sangat efektif untuk hama-hama yang berterbangan dan lincah seperti hama bring pada tanaman murbei (Bayer).
Hasil penelitian di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang ternyata insektisida ini sangat efektif mengendalikan hama kutu kebul (bemisia tabaci) pada tanaman kentang dengankonsentrasi formulasi 2 cc/lt).
3. Insektisida Succes 25 EC
Bahan aktif insektisida ini adalah spinosad 25 gr/lt. Insektisida ini merupakan insektisida alami karena bahan aktifnya menyerupai cendawan, bersifat racun kontak dan lambung sangat efektif untuk ulat-ulat daun. Interval penggunaan insektisida ini 30 – 40 hari sekali dan hanya digunakan apabila populasi hama sudah mencapai ambang ekonomi (Dow Agro Sciences).
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam daur hidupnya, daun murbai juga akan mengalami masa dimana daaun murbai akan dimangsa oleh hama dan penyakit. Di Indonesia, hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai, diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.


Saran
Untuk menghindari terjadinya resistensi hama tanaman murbei terhadap insektisida yang digunakan dianjurkan penggunaan insektisida kimia selang seling sekali seminggu dengan insektisida botani (campuran daun nimba; daun serai wangi; lengkuas) dan khusus untuk penggunaan insektisida Succes dianjurkan interval penggunaannya 30 hari sekali.
Daftar Pustaka

Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan. 1996. Hama Penyakit Murbei dan Pengendaliannya. Departemen Kehutanan Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Maros.
F.A.O., 1988. Mulberry Cultivation. Agriculture Service. Bulletin 73 (1).
Hill, A.D. and Waller. 1988. Basic Characteristic of Botanical. The Suistanable Agriculture. Ney Letters Vol. I (4).
Kardinan, A, 2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasinya. Penerbit Swadaya, Jakarta
Pasetriyani E.T., B,K. Udiarto, dan S. Supriyanto. 1996. Efikasi Insektisida Iorasional
Terhadap Hama (Thrips palmi) pada Tanaman Kentang Laporan Penelitian Balai
Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. Lembang.
Soemartono S, 1990. Peranan Sumber Hayati dalam Pengelolaan Serangga dan Tungau, Makalah Utama dan Abstrak Seminar Pengelolaan. Serangga Hama dan Tungau. PAU Hayati ITB. Bandung.
Yusran. 2010. Penyakit Murbei. http://hmpt-unhas.blogspot.com/2010/11/penyakit-murbei.html. diakses 26 november 2014 jam 19.00 WIB


contoh resuman mata kuliah ilmu reproduksi ternak



RESUMAN


Inseminasi buatan dilakukan untuk memperbaiki mutu genetik, menghindari penyebaran penyakit dan meningkatkan jumlah keturunan ungul sehingga harapannya mampu meningkatkan kesejahteraan peternak. Proses perkawinan IB dilakukan dengan menggunakan pejantan yang memiliki sifat unggul serta kualitas semen yang baik. Sifat unggul ini terlihat dari ukuran testis yang besar dan simetris. Sedangkan untuk menghasilkan semen yang berkualitas, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti umur pejantan, sifat genetik, suhu dan musim, frekuensi ejakulasi dan pakan ternak. Menurut Suharyati, Sri dan Madi Hartono(2013) pakan yang mendukung kualitas semen sapi, ransum harus memiliki kandungan vitamin E dan mineral Zn, dimana Vitamin E mampu mencegah kerusakan spermatozoa pada ternak jantan. Untuk Mineral Zn berpengaruh terhadap proses, kontrol motilitas sperma, stabilisasi membran sperma, mendukung pertumbuhan dan pembelahan sel-sel gonad, membantu dalam proses pematangan spermatozo didalam epididimis.
kualitas spermatozoa akan semakin rendah seiring menuanya umur ternak. Menurut Melita, Dini, Dasrul, dan Mulyadi Adam(2013) kualitas pada pejantan yang berumur 2-7 tahun dapat menghasilkan semen yang lebih baik untuk angka kebuntingan yang lebih tinggi. Selain itu, kualitas semen pejantan yang sering diejakulat memiliki persentase spermatozoa abnormal yang lebih tinggi, hal ini dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat stres, genetika, gangguan pada tubuli seminiferi, dan kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Ariefin Ade Prasetyo, Taswin R. Tagama, dan Dadang M. Saleh(2013) menambahkan bahwa pada pengujian kualitas semen,  tingkat umur akan mempengaruhi kualitas semen darisegi sifat serta tingkat motilitasnya. Selain itu, semen yang sering diejakulasikan akan menurunkan tingkat libido, volume semen dan jumlah spermatozoa per ejakulasi.
Pelaksanaan inseminasi buatan, dapat dilakukan dengan menggunakan semen cair ataupun beku. semen beku digunakan untuk pelaksanan IB didaerah yang letaknya jauh. untuk mempertahankan kualitas dalam jangka waktu yang lama, menurut Amin, Muhammad Rizal, Mozes R. Toelihere, Tuty, Yusuf, dan Polmer Situmorang(1998) IB dapat dilakukan pengenceran plasma semen sapi dengan laktosa. Pengenceran ini akan mencegah terjadinya peroksidasi lipid sehingga menghambat kerusakan pada membran plasma semen. pada kualitas. Pada kualitas pakan yang baik akan menghasilkan konsentrasi spermatozoa tinggi, dimana semen tersebut dapat melakukan metabolisme secara lancear karena ada kualitas pakan yang mendukung serta tingkat seksual dan kedewasaan dari pejantan. Ini sesuai penjelasan D.C ,Candra Aerens, M. nur ihsan, Nurul Isnaini(2012)bahwa kualitas pakan yang diberikan, kesehatan alat reproduksi, besar testis, umur dan frekuensi ejakulasi pejantan akan mempengaruhi presentase konsentrasi spermatozoa.dan untuk sapi local, yang memiliki karakteristik mudah beradaptasi,memiliki kualitas motilitas semen yang tinggi, dibandingkan dengan sapi persilangan. Tingginya mortalitas akan berbanding lurus terhadap tingginya presentase konsentrasi semen.
Pelaksanaan IB dapat dilakukan dengan metode vagina buatan dan elektroejakulator. Pada kedua teknik ini, semen dioptimalkan dalam suhu serta kelembapan yang sama dengan aslinya serta tidak terkena langsung oleh sinar matahari. Dikatakan Herdis(2012)bahwa semen yang terkena sinar matahari langsung, akan mengalami penurunan kualitas. Sehingga saat penampungan semen diperlukan inseminator handal serta kain hitam sebagai penutup tempat penampungan semen. Dengan teknik ini akan membantu mengoptimalkan kualitas semen. untuk penyimpanan Semen cair, dapat disimpan pada suhu 5°C dan mampu bertahan selama 3-4 hari. Dimana suhu ini akan mengubah struktur plasma semen sehingga semen lebih retan terhadap radikal bebas saat berkontak langsung pada oksigen.(Indriani,Trinil Susilawati, Sri Wahyuningsih.2013.) dengan kualitas semen yang baik inilah, pejantan unggul dapat dijadikan pertimbangan untuk mendapatkan litter size tinggi.

Daftar Pustaka


 Amin .Muhammad Rizal, Mozes R. Toelihere, Tuty L. Yusuf, Dan Polmer Situmorang3.1998.Pengaruh Plasma Semen Sapi Terhadap Kualitas Semen Beku Kerbau Lumpur (Bubalus Bubalis). Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner Vol. 4 No. 3
D.C.Candra Aerens, M. Nur Ihsan, Nurul Isnaini.2012.Perbedaan Kuantitatif Dan Kualitatif Semen Segar Pada Berbagai Bangsa Sapi Potong. Hasil penelitian di BBIB Singosari
Herdis.2012.Pengaruh Waktu Penampungan Semen terhadap Gerakan Massa Spermatozoa Dan Tingkah Laku Kopulasi Pejantan Domba Garut. Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia Vol. 14, No. 1, Hlm.38-43
Indriani, Trinil Susilawati, Sri Wahyuningsih.2013. Daya Hidup Spermatozoa Sapi Limousin
yang Dipreservasi dengan Metode Water Jacket dan Free Water Jacke. Jurnal Veteriner September 2013 Vol. 14 No. 3: 379-386
Melita.Dini, Dasrul, Dan Mulyadi Adam.2013.Pengaruh Umur Pejantan Dan Frekuensi Ejakulasi Terhadap Kualitas Spermatozoa Sapi Aceh. Jurnal Medika Veterinaria. Vol. 8 No. 1, Februari 2014
 Prasetyo.Ariefin Ade,Taswin R. Tagama, Dan Dadang M. Saleh.2013. Kualitas Semen Segar Sapi Simmental Yang Dikoleksi Dengan Interval Yang Berbeda Di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3):907-913
Suharyati.Sri dan Madi Hartono.2o13.Peningkatan Kualitas Semen Kambing Boer Dengan Pemberian Vitamin E Dan Mineral Zn. Jurnal Kedokteran Hewan Vol. 7 No. 2, September 2013



 Amin