Selasa, 12 Mei 2015

contoh makalah mengenai hama dan penyakit pada murbei

Ilmu Produksi Aneka Ternak
Hama Dan Penyakit Pada Daun Murbei 

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013/2014



Bab I. Pendahuluan

1.1.Latar belakang
Daun tanaman murbei (Morus sp) merupakan pakan alami untuk perkembangan ulat sutra (Bombyx mori). Kualitas yang dihasilkan daun murbei akan mendukung kualitas kokon yang dihasilkan. Produktivitas dan kualitas kokon ulat sutera serta benang sutera sangat dipengaruhi oleh kondisi pakan daun murbei. Kuantitas dan kualitas daun murbei dipengaruhi oleh jenis murbei, kualitas bibit, teknik budidaya yang intensif. Dalam proses pembudidayaan daun murbai, juga tidak terhindar dari serangan oleh hama dan penyakit yang merusak tanaman hingga menurunkan produksi daun murbei dan mempengaruhi perkembangbiaka ulat sutra. Pada teknik budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera, sangat dipengaruhi oleh teknologi reeling dan re-reeling yang mutakhir serta mesin modern yang dapat menghasilkan benang sutera yang berkualitas baik sehingga mampu bersaing di pasar international.
            Di Indonesia, hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai, diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.
            Dengan mengetahui mengenai apa dan bagaimana suatu hama dan penyakit yang menyerang pada tananman murbei sehingga hasil yang di harapkan akan berkurang dari tarjet, maka kita akan dapat membuat suatu penanganan yang cocok dan tepat dalam membasmi ataupn mencegah hama dan penyakit tersebut. Dan nantinya yang diharapkan adalah hasil panen murbei yang optimum dan dapat mencukupi pakan dari ulat sutra yang dibudidayakan.
a.      Identifikasi masalah
2.      Hama dan penyakit apa saja yang sering menyerang daun murbei?
3.      Bagaimana daur hidup hama dan penyakit pada daun murbai?
4.      Bagaimana pengendalian hama dan penyakit pada daun murbai?



1.3.Tujuan Makalah
Untuk mengidentifikasi hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei serta untuk menentukan cara pengendalian yang efektif terhadap hama penyakit tersebut tetapi tidak menimbulkan kematian bagi ulat sutera yang makan daun murbei
1.4.Kegunaan Makalah
            Dengan mengetahui daur hidup dari hama dan penyakit yang sering menyerang daun murbei, diharapkan dapat mmenentukan pengendalian yang tepat serta efektif untuk menghentikan perkembangan hama dan penyakit pada daur hidup.

BAB II. PEMBAHASAN
Pada sistem pemeliharaan dan penanaman daun murbei, untuk menghasilkan produktifitas yang optimal maka diperlukan penanganan pada saat penanaman daun murbei. Penanganan tersebut dapat berupa: persiapan lahan,sistem tanam yang disesuaikan dengan lahan tepat penanaman daun murbei, pemeliharaan kebun yang dikelola mulai dari pemangkasan batang hingga pengendalian dari hama maupun penyakit yang dapat menyerang pada tanaman murbei. Berikut adalah penjelasan dari hama dan penyakit pada daun murbei.
2.1. Hama Penyakit Tanaman Murbei
Tanaman murbei yang banyak ditanam di Jawa Barat adalah Morus multicaulis, M.cathayana dan M. Nigra. Daun tanaman murbei merupakan makanan pokok ulat sutera (Bombyx mori).
Hama yang banyak menyerang pucuk daun murbei adalah :
A. Glyphodes Pulverulentalis
Serangga ini termasuk ordo Lepidoptera. Ulatnya lebih menyukai daun tanaman murbei M. multicaulis karena daunnya lebih lembut dibandingkan dengan varietas yang lain. Kerusakan terjadi pada tanaman murbei di persemaian dan di lapangan terutama 1 – 2 bulan setelah pangkas. Siklus hama ini kurang lebih 25 hari, larva berwarna hijau bening, kepala coklat dan setelah dewasa menjadi coklat kemerah-merahan. Umur larva 8 – 10 hari, ulat yang baru menetas akan memakan daun yang masih lunak sedangkan ulat instar IV memakan jaringan daun akibatnya daun berubah menjadi coklat transparan dan meninggalkan kotoran hitam. Kerusakan terjadi diantara musim hujan dan awal musim kemarau.
Sebelum menjadi pupa, ulat menggulung daun yang dimakannya dengan mengeluarkan serat dan membuat kokon didalamnya. Umur pupa 7 hari kemudian berubah menjadi ngengat, panjang badan 10 mm, sayap berwarna coklat dengan bintik-bintik kelabu (Sunanto, 1997).
B. Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus Hirsutus)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, mengalami metamorfosa tidak sempurna, badannya ditutupi oleh tepung putih. Siklus hidup kira-kira 35 hari, nimpha dan dewasa mengeluarkan embun madu yang menyebabkan semut berdatangan atau embun tersebut dapat menjadi media tumbuh cendawan Septobasidium dan diikuti dengan cendawan (Corticidium) yang berwarna hitam.
Kutu ini merusak daun, kuncup dan tunas muda dengan menghisap cairan, sehingga pertumbuhan pucuk terhalang atau terhenti. Daun mengkerut, keriting dan berubah bentuk. Pertumbuhan tunas terhenti, kuncup daun membengkak, ruas antara pucuk daun menjadi pendek yang mengakibatkan cabang membengkak tidak dapat berkembang serta mudah patah Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan, 1996).

Gambar Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus Hirsutus)
C. Kutu Batang (Psedaulacapsis Pentagona)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, menyerang tanaman murbei yang terlindungi oleh pohon-pohon besar atau karena kondisi lembab. Bentuk nimpha dan dewasa terdapat pada cabang atau batang, menghisap cairan tanaman menyebabkan kulit cabang atau batang menjadi putih keabu-abuan. Jika serangan cukup berat akan menyebabkan kematian tanaman (Sunanto, 1997).

D. Hama Breng/Kutu Kebul (Bemisia Myricae)
Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, family : Aleurodidae, banyak ditemukan di bawah permukaan daun. Serangan serangga ini banyak terjadi pada bulan Mei dan Juni. Bentuk nimpha dan dewasa menusuk cairan daun dan meninggalkan sekresi berupa embun madu yang menyebabkan daun berwarna hitam karena pada embun tersebut tumbuh cendawan jelaga (F.A.O., 1988).
Daun murbei yang telah diisap cairannya baik oleh kutu daun dan kutu kebul tidak dapat digunakan sebagai pakan ulat sutera karena bila termakan akan mengakibatkan ulat sutera sakit dan mati.

Gambar Hama Breng/Kutu Kebul
2.2. Berbagai Jenis Penyakit Yang Menyerang Tanaman Murbei
A. Penyakit Tepung Disebabkan Oleh Dendawan (Phylllactinia Moricola)
Penyakit ini menyerang daun dengan muculnya bintik-bintik putih atau keputih-putihan pada bagian bawah daun kemudian menyebar pada permukaan daun seperti tepung putih. Biasanya menyerang daun yang telah dewasa (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996).
Penyebaran : konidia terbawa angin kemudian melekat pada cabang, batang, pucuk
Cara Pencegahan
1. Jangan menanam ras-ras murbei yang mudah mengeras, contoh : Akagi, Tsurutu.
2. Mencegah penanaman murbei yang rapat.
3. Mengumpulkan daun-daun yang terserang, kemudian dibakar atau dimasukkan di dalam tanah.
4. Disemprot dengan bahan-bahan kimia, contoh: bubur korado

Gambar
B. Penyakit Bintik Daun Oleh Cendawan ( Sirosporium Mori)
Gejala penyakit : pada sisi daun terdapat bintik coklat gelap tidak teratur. Pada bintik terkumpul spora kecil warna putih atau merah muda. Penyakit berkembang cepat pada kondisi lembab, sirkulasi udara jelek.
Cara pencegahan :
1. Memperbaiki drainase dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N.
)
C. Penyakit Plasta (Septobasidium Bogoriensi)
Pada cabang muncul bintik-bintik kecil yang lama-kelamaan meluas melingkari cabang. Bintik penyakit ini berwarna kelabu, muncul pada cabang dan batang terlihat seperti plester yang ditempel, permukaannya licin. Selanjutnya bagian tengah berubah menjadi warna coklat tua dan retak. Serangan penyakit ini bersimbiose dengan serangan kutu batang terutama berkembang pada jelaga yang dikeluarkan oleh kutu tersebut (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996).
Cara Pencegahan
1. Memusnahkan kutu batang
2. Membuang miselia-miselia cendawan
3. Mengurangi cabang-cabang atau membuat pangkasan rendah
4. Sirkulasi udara dalam kebun harus baik
D. Penyakit Karat (Accidium Maci / Barclay)
Penyebab : Cendawan
Gejala kerusakan : Terjadi penebalan pada kuncup daun, tunas-tunas muda. Bagian yang terserang menjadi kuning terang, kuning orange. Daun berbintik-bintik dan pada bintik-bintik terdapat badan buah (Accidium) berbentuk bundar atau bulat telur.
Penyebaran : Melalui angin
Cara Pencegahan
1. Bagian tanaman yang terserang dikumpulkan sebelum musim penghujan dibakar.
2. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit).
3. Menjaga sirkulasi udara dalam kebun, jangan jelek.
4. Sanitasi kebun yang baik dengan mengurangi gulma.

E. Penyakit Bakteri (Pseudomonas Siringae Pv Mori )
Gejala penyakit :
o Timbul bintik nekrosis yang akhirnya berlubang pada tunas-tunas muda
o Tangkai dan urat-urat daun yang nekrosis mengkerut, menggulung, kuning, dan akhirnya daun gugur
o ujung cabang hitam, layu, dan mati
Cara pengendalian :
1. Mengatur drainase dan sirkulasi udara dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N
3. Membuang sumber infeksi
4. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit

2.3. Insektisida Yang Digunakan
1. Insektisida Botani atau Biorasional.
Insektisida botani adalah campuran dari daun nimba (Azadirachta indica), daun serai wangi (Cymbopogon nardus) dan rimpang lengkuas (Alpinia galangal).
Daun nimba mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antifeedant, repellent dan racun kontak. Kandungan minyak yang terdapat dalam daun serai wangi berfungsi sebagai pewangi detergent dan juga sebagai penghalau serangga. Rimpang lengkuas banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan.
Hill dan Waller (1988) menyatakan respon serangga yang terkena ekstrak nimba dapat langsung mati dan ada juga yang menjadi cacat tubuhnya akibat terganggunya proses ganti kulit, Ekstrak daun serai wangi yang mengandung minyak atsiri, senyawa aldehid diduga mempunyai sifat menolak terhadap serangga. Sedangkan rimpang lengkuas mempunyai difat mengurangi nafsu makan terhadap serangga. Campuran daun nimba : daun serai wangi : rimpang lengkuas dengan ratio 8 kg : 6 kg : 6 kg per ha mampu menekan hama yang bentuk dewasa dan terbang, berpindah-pindah, lincah seperti hama breng (kutu kebul) (Kardinan, 2002 dan Pasetriyani, 1996).
2. Insektisida kimia, Confidor 200 SL.
Bahan aktif insektisida ini adalah imidokloporid 200 gr/liter. Insektisida ini bersifat sistemik, kontak dan lambung. Insektisida ini sangat efektif untuk hama-hama yang berterbangan dan lincah seperti hama bring pada tanaman murbei (Bayer).
Hasil penelitian di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang ternyata insektisida ini sangat efektif mengendalikan hama kutu kebul (bemisia tabaci) pada tanaman kentang dengankonsentrasi formulasi 2 cc/lt).
3. Insektisida Succes 25 EC
Bahan aktif insektisida ini adalah spinosad 25 gr/lt. Insektisida ini merupakan insektisida alami karena bahan aktifnya menyerupai cendawan, bersifat racun kontak dan lambung sangat efektif untuk ulat-ulat daun. Interval penggunaan insektisida ini 30 – 40 hari sekali dan hanya digunakan apabila populasi hama sudah mencapai ambang ekonomi (Dow Agro Sciences).
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam daur hidupnya, daun murbai juga akan mengalami masa dimana daaun murbai akan dimangsa oleh hama dan penyakit. Di Indonesia, hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai, diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.


Saran
Untuk menghindari terjadinya resistensi hama tanaman murbei terhadap insektisida yang digunakan dianjurkan penggunaan insektisida kimia selang seling sekali seminggu dengan insektisida botani (campuran daun nimba; daun serai wangi; lengkuas) dan khusus untuk penggunaan insektisida Succes dianjurkan interval penggunaannya 30 hari sekali.
Daftar Pustaka

Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan. 1996. Hama Penyakit Murbei dan Pengendaliannya. Departemen Kehutanan Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Maros.
F.A.O., 1988. Mulberry Cultivation. Agriculture Service. Bulletin 73 (1).
Hill, A.D. and Waller. 1988. Basic Characteristic of Botanical. The Suistanable Agriculture. Ney Letters Vol. I (4).
Kardinan, A, 2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasinya. Penerbit Swadaya, Jakarta
Pasetriyani E.T., B,K. Udiarto, dan S. Supriyanto. 1996. Efikasi Insektisida Iorasional
Terhadap Hama (Thrips palmi) pada Tanaman Kentang Laporan Penelitian Balai
Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. Lembang.
Soemartono S, 1990. Peranan Sumber Hayati dalam Pengelolaan Serangga dan Tungau, Makalah Utama dan Abstrak Seminar Pengelolaan. Serangga Hama dan Tungau. PAU Hayati ITB. Bandung.
Yusran. 2010. Penyakit Murbei. http://hmpt-unhas.blogspot.com/2010/11/penyakit-murbei.html. diakses 26 november 2014 jam 19.00 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar