Ilmu Produksi
Aneka Ternak
Hama Dan Penyakit Pada Daun Murbei
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013/2014
Bab I. Pendahuluan
1.1.Latar belakang
Daun
tanaman murbei (Morus sp) merupakan pakan alami untuk perkembangan ulat
sutra (Bombyx mori). Kualitas yang dihasilkan daun murbei akan mendukung
kualitas kokon yang dihasilkan. Produktivitas
dan kualitas kokon ulat sutera serta benang sutera sangat dipengaruhi oleh
kondisi pakan daun murbei. Kuantitas dan kualitas daun murbei dipengaruhi oleh
jenis murbei, kualitas bibit, teknik budidaya yang intensif. Dalam proses
pembudidayaan daun murbai, juga tidak terhindar dari serangan oleh hama dan
penyakit yang merusak tanaman hingga menurunkan produksi daun murbei dan
mempengaruhi perkembangbiaka ulat sutra. Pada teknik budidaya tanaman murbei
dan pemeliharaan ulat sutera, sangat dipengaruhi oleh teknologi reeling dan
re-reeling yang mutakhir serta mesin modern yang dapat menghasilkan benang
sutera yang berkualitas baik sehingga mampu bersaing di pasar international.
Di
Indonesia, hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama
pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus),
hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis
pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang
sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini
sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan
penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai,
diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.
Dengan
mengetahui mengenai apa dan bagaimana suatu hama dan penyakit yang menyerang
pada tananman murbei sehingga hasil yang di harapkan akan berkurang dari
tarjet, maka kita akan dapat membuat suatu penanganan yang cocok dan tepat
dalam membasmi ataupn mencegah hama dan penyakit tersebut. Dan nantinya yang
diharapkan adalah hasil panen murbei yang optimum dan dapat mencukupi pakan
dari ulat sutra yang dibudidayakan.
a.
Identifikasi
masalah
2. Hama
dan penyakit apa saja yang sering menyerang daun murbei?
3. Bagaimana
daur hidup hama dan penyakit pada daun murbai?
4. Bagaimana
pengendalian hama dan penyakit pada daun murbai?
1.3.Tujuan Makalah
Untuk
mengidentifikasi hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei serta
untuk menentukan cara pengendalian yang efektif terhadap hama penyakit tersebut
tetapi tidak menimbulkan kematian bagi ulat sutera yang makan daun murbei
1.4.Kegunaan Makalah
Dengan mengetahui daur hidup dari
hama dan penyakit yang sering menyerang daun murbei, diharapkan dapat
mmenentukan pengendalian yang tepat serta efektif untuk menghentikan
perkembangan hama dan penyakit pada daur hidup.
BAB II. PEMBAHASAN
Pada
sistem pemeliharaan dan penanaman daun murbei, untuk menghasilkan produktifitas
yang optimal maka diperlukan penanganan pada saat penanaman daun murbei.
Penanganan tersebut dapat berupa: persiapan lahan,sistem tanam yang disesuaikan
dengan lahan tepat penanaman daun murbei, pemeliharaan kebun yang dikelola
mulai dari pemangkasan batang hingga pengendalian dari hama maupun penyakit
yang dapat menyerang pada tanaman murbei. Berikut adalah penjelasan dari hama
dan penyakit pada daun murbei.
2.1. Hama Penyakit Tanaman Murbei
Tanaman
murbei yang banyak ditanam di Jawa Barat adalah Morus multicaulis,
M.cathayana dan M. Nigra. Daun tanaman murbei merupakan makanan
pokok ulat sutera (Bombyx mori).
Hama yang banyak
menyerang pucuk daun murbei adalah :
A. Glyphodes Pulverulentalis
Serangga
ini termasuk ordo Lepidoptera. Ulatnya lebih menyukai daun tanaman murbei M.
multicaulis karena daunnya lebih lembut dibandingkan dengan varietas yang
lain. Kerusakan terjadi pada tanaman murbei di persemaian dan di lapangan
terutama 1 – 2 bulan setelah pangkas. Siklus hama ini kurang lebih 25 hari,
larva berwarna hijau bening, kepala coklat dan setelah dewasa menjadi coklat
kemerah-merahan. Umur larva 8 – 10 hari, ulat yang baru menetas akan memakan
daun yang masih lunak sedangkan ulat instar IV memakan jaringan daun akibatnya
daun berubah menjadi coklat transparan dan meninggalkan kotoran hitam.
Kerusakan terjadi diantara musim hujan dan awal musim kemarau.
Sebelum menjadi
pupa, ulat menggulung daun yang dimakannya dengan mengeluarkan serat dan
membuat kokon didalamnya. Umur pupa 7 hari kemudian berubah menjadi ngengat,
panjang badan 10 mm, sayap berwarna coklat dengan bintik-bintik kelabu
(Sunanto, 1997).
B. Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus
Hirsutus)
Serangga
ini termasuk ordo Hemiptera, mengalami metamorfosa tidak sempurna, badannya
ditutupi oleh tepung putih. Siklus hidup kira-kira 35 hari, nimpha dan dewasa
mengeluarkan embun madu yang menyebabkan semut berdatangan atau embun tersebut
dapat menjadi media tumbuh cendawan Septobasidium dan diikuti dengan
cendawan (Corticidium) yang berwarna hitam.
Kutu ini merusak
daun, kuncup dan tunas muda dengan menghisap cairan, sehingga pertumbuhan pucuk
terhalang atau terhenti. Daun mengkerut, keriting dan berubah bentuk.
Pertumbuhan tunas terhenti, kuncup daun membengkak, ruas antara pucuk daun
menjadi pendek yang mengakibatkan cabang membengkak tidak dapat berkembang
serta mudah patah Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan, 1996).
Gambar
Kutu Daun, Mealy Bug (Meconellicoccus Hirsutus)
C. Kutu Batang (Psedaulacapsis Pentagona)
Serangga
ini termasuk ordo Hemiptera, menyerang tanaman murbei yang terlindungi oleh pohon-pohon besar atau karena kondisi
lembab. Bentuk nimpha dan dewasa terdapat pada cabang atau batang, menghisap
cairan tanaman menyebabkan kulit cabang atau batang menjadi putih keabu-abuan.
Jika serangan cukup berat akan menyebabkan kematian tanaman (Sunanto, 1997).
D. Hama Breng/Kutu Kebul (Bemisia
Myricae)
Serangga
ini termasuk ordo Hemiptera, family : Aleurodidae, banyak ditemukan di bawah
permukaan daun. Serangan serangga ini banyak terjadi pada bulan Mei dan Juni.
Bentuk nimpha dan dewasa menusuk cairan daun dan meninggalkan sekresi berupa
embun madu yang menyebabkan daun berwarna hitam karena pada embun tersebut
tumbuh cendawan jelaga (F.A.O., 1988).
Daun murbei yang
telah diisap cairannya baik oleh kutu daun dan kutu kebul tidak dapat digunakan
sebagai pakan ulat sutera karena bila termakan akan mengakibatkan ulat sutera
sakit dan mati.
Gambar
Hama Breng/Kutu Kebul
2.2. Berbagai Jenis Penyakit Yang Menyerang Tanaman Murbei
A. Penyakit Tepung Disebabkan Oleh Dendawan
(Phylllactinia Moricola)
Penyakit
ini menyerang daun dengan muculnya bintik-bintik putih atau keputih-putihan
pada bagian bawah daun kemudian menyebar pada permukaan daun seperti tepung
putih. Biasanya menyerang daun yang telah dewasa (Balai Persuteraan Alam
Sulsel, 1996).
Penyebaran : konidia terbawa angin kemudian melekat pada
cabang, batang, pucuk
Cara Pencegahan
1. Jangan menanam ras-ras murbei yang mudah mengeras,
contoh : Akagi, Tsurutu.
2. Mencegah penanaman murbei yang rapat.
3. Mengumpulkan daun-daun yang terserang, kemudian
dibakar atau dimasukkan di dalam tanah.
4. Disemprot dengan bahan-bahan kimia, contoh: bubur
korado
Gambar
B. Penyakit Bintik Daun Oleh Cendawan ( Sirosporium
Mori)
Gejala penyakit : pada sisi daun terdapat bintik coklat
gelap tidak teratur. Pada bintik terkumpul spora kecil warna putih atau merah
muda. Penyakit berkembang cepat pada kondisi lembab, sirkulasi udara jelek.
Cara pencegahan :
1. Memperbaiki drainase dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N.
)
C. Penyakit Plasta (Septobasidium
Bogoriensi)
Pada
cabang muncul bintik-bintik kecil yang lama-kelamaan meluas melingkari cabang.
Bintik penyakit ini berwarna kelabu, muncul pada cabang dan batang terlihat
seperti plester yang ditempel, permukaannya licin. Selanjutnya bagian tengah
berubah menjadi warna coklat tua dan retak. Serangan penyakit ini bersimbiose
dengan serangan kutu batang terutama berkembang pada jelaga yang dikeluarkan
oleh kutu tersebut (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996).
Cara Pencegahan
1. Memusnahkan kutu batang
2. Membuang miselia-miselia cendawan
3. Mengurangi cabang-cabang atau membuat pangkasan rendah
4. Sirkulasi udara dalam kebun harus baik
D.
Penyakit Karat (Accidium Maci / Barclay)
Penyebab : Cendawan
Gejala kerusakan : Terjadi penebalan pada kuncup daun,
tunas-tunas muda. Bagian yang terserang menjadi kuning terang, kuning orange.
Daun berbintik-bintik dan pada bintik-bintik terdapat badan buah (Accidium)
berbentuk bundar atau bulat telur.
Penyebaran : Melalui angin
Cara Pencegahan
1. Bagian tanaman yang terserang dikumpulkan sebelum
musim penghujan dibakar.
2. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit).
3. Menjaga sirkulasi udara dalam kebun, jangan jelek.
4. Sanitasi kebun yang baik dengan mengurangi
gulma.
E.
Penyakit Bakteri (Pseudomonas Siringae Pv Mori )
Gejala penyakit :
o Timbul bintik nekrosis yang akhirnya berlubang pada
tunas-tunas muda
o Tangkai dan urat-urat daun yang nekrosis mengkerut,
menggulung, kuning, dan akhirnya daun gugur
o ujung cabang hitam, layu, dan mati
Cara pengendalian :
1. Mengatur drainase dan sirkulasi udara dalam kebun
2. Mengurangi pemupukan N
3. Membuang sumber infeksi
4. Mengatur jarak tanam (hindari jarak tanam sempit
2.3. Insektisida Yang Digunakan
1. Insektisida Botani atau Biorasional.
Insektisida
botani adalah campuran dari daun nimba (Azadirachta indica), daun serai
wangi (Cymbopogon nardus) dan rimpang lengkuas (Alpinia galangal).
Daun nimba
mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antifeedant, repellent dan racun
kontak. Kandungan minyak yang terdapat dalam daun serai wangi berfungsi sebagai
pewangi detergent dan juga sebagai penghalau serangga. Rimpang lengkuas banyak
digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan.
Hill dan Waller
(1988) menyatakan respon serangga yang terkena ekstrak nimba dapat langsung
mati dan ada juga yang menjadi cacat tubuhnya akibat terganggunya proses ganti
kulit, Ekstrak daun serai wangi yang mengandung minyak atsiri, senyawa aldehid
diduga mempunyai sifat menolak terhadap serangga. Sedangkan rimpang lengkuas
mempunyai difat mengurangi nafsu makan terhadap serangga. Campuran daun nimba :
daun serai wangi : rimpang lengkuas dengan ratio 8 kg : 6 kg : 6 kg per ha
mampu menekan hama yang bentuk dewasa dan terbang, berpindah-pindah, lincah
seperti hama breng (kutu kebul) (Kardinan, 2002 dan Pasetriyani, 1996).
2. Insektisida kimia, Confidor 200 SL.
Bahan
aktif insektisida ini adalah imidokloporid 200 gr/liter. Insektisida ini bersifat
sistemik, kontak dan lambung. Insektisida ini sangat efektif untuk hama-hama
yang berterbangan dan lincah seperti hama bring pada tanaman murbei (Bayer).
Hasil penelitian
di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang ternyata insektisida ini sangat
efektif mengendalikan hama kutu kebul (bemisia tabaci) pada tanaman
kentang dengankonsentrasi formulasi 2 cc/lt).
3. Insektisida Succes 25 EC
Bahan
aktif insektisida ini adalah spinosad 25 gr/lt. Insektisida ini merupakan
insektisida alami karena bahan aktifnya menyerupai cendawan, bersifat racun
kontak dan lambung sangat efektif untuk ulat-ulat daun. Interval penggunaan
insektisida ini 30 – 40 hari sekali dan hanya digunakan apabila populasi hama
sudah mencapai ambang ekonomi (Dow Agro Sciences).
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam daur hidupnya, daun murbai juga akan mengalami
masa dimana daaun murbai akan dimangsa oleh hama dan penyakit. Di Indonesia,
hama yang merusak perkembangan daun murbai diantaranya : hama pucuk (G.
pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama
penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis
pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.). sedangkan penyakit yang
sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini
sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan
penyakit plasta. Sehingga untuk mengoptimalkan perkembangbiakan daun murbai,
diperlukan tahapan untuk mengendalikan hama dan penyakit daun murbai.
Saran
Untuk menghindari
terjadinya resistensi hama tanaman murbei terhadap insektisida yang digunakan
dianjurkan penggunaan insektisida kimia selang seling sekali seminggu dengan
insektisida botani (campuran daun nimba; daun serai wangi; lengkuas) dan khusus
untuk penggunaan insektisida Succes dianjurkan interval penggunaannya 30 hari
sekali.
Daftar Pustaka
Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan. 1996. Hama
Penyakit Murbei dan Pengendaliannya. Departemen Kehutanan Ditjen Reboisasi
dan Rehabilitasi Lahan, Maros.
F.A.O., 1988. Mulberry Cultivation. Agriculture Service. Bulletin 73 (1).
Hill,
A.D. and Waller. 1988. Basic
Characteristic of Botanical. The
Suistanable Agriculture. Ney Letters Vol. I (4).
Kardinan,
A, 2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasinya. Penerbit Swadaya,
Jakarta
Pasetriyani E.T.,
B,K. Udiarto, dan S. Supriyanto. 1996.
Efikasi Insektisida Iorasional
Terhadap Hama (Thrips palmi) pada Tanaman
Kentang Laporan Penelitian Balai
Penelitian Tanaman Sayuran Lembang.
Lembang.
Soemartono
S, 1990. Peranan Sumber Hayati dalam
Pengelolaan Serangga dan Tungau, Makalah Utama dan Abstrak Seminar Pengelolaan.
Serangga Hama dan Tungau. PAU Hayati ITB. Bandung.
Yusran. 2010. Penyakit
Murbei. http://hmpt-unhas.blogspot.com/2010/11/penyakit-murbei.html. diakses 26 november 2014 jam 19.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar